Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘cerita lepas’ Category

Entah berapa bait penyesalan jika kita terlambat membahagiakan. Kadang kita lupa bahwa menjadi bahagia, sejatinya adalah untuk membahagiakan yang tercinta. Ada banyak jalan, ribuan peluang dan kesempatan, namun hanya sedikit yang akhirnya berhasil mewujudkan. Ketika Bapak meninggal, saya baru sadar akan waktu yang terlewat sia-sia. Meski dulu setiap hari dengannya ada pertemuan, namun ternyata saya tak mampu membalas kebaikan Bapak dengan layak.

Sekarang Tuhan masih menguji saya dengan sekali lagi kesempatan. Kesempatan membahagiakan sosok lain. Dialah perempuan yang melahirkan dan membesarkanku. Dialah Mama. Mama memiliki sifat yang amat berbeda dengan almarhum Bapak. Mama adalah perempuan yang sensitif tapi sangat tangguh. Ceria tapi juga mudah menangis. Dingin sekaligus hangat. Jika Bapak kadang tak pernah pusing akan gaya berpakaian, namun sebaliknya, Mama sangat memperhatikan penampilannya. (lebih…)

Read Full Post »

Alhamdulillah, laptop yang sempat ‘mati’ sampai dua bulan akhirnya is back! Baru blogging lagi huhu. Apa kabar sikembar? Desember 2016 lalu sikembar memasuki usia 8 tahun. Usia segitu udah kelas 2 SD klo mereka sekolah 😀 Alhamdulillah, kami masih istiqamah meng-hs-kan mereka. Sejauh ini mereka, terutama kami enjoy menjalani sistem “gak sekolah” ini.

Kami belum merumuskan rencana-rencana baru lagi buat mereka. Aktivitas terbaru sikembar sekarang adalah karate dan aritmatika. Cerita daftarin mereka karate cukup alot juga. Soalnya sebelumnya sikembar udah sabuk hijau di klub taekwondonya. Setelah kami evaluasi, ternyata klub tersebut gak sesuai harapan. Manajemennya gak bagus, trus yg usia anak-anak gak terlalu diperhatikan 😦 Akhirnya kami tanya sikembar, mau gak dipindah ke klub yang dekat, jadi mama baba juga ga susah antar jemput. Awalnya mereka ogah, krn udah dekat ama kaka-kakanya di klub taekwondo. Kami pun ‘paksa’ halus haha. Kita bawa mereka ke lokasi, pas ngeliat anak-anak di klub karate itu ternyata lbh byk yg seumuran mereka, akhirnya mereka luluh juga. Malah sekarang mereka selalu bilang “maa, saya lebih suka karate daripada taekwondo.” 😀 (lebih…)

Read Full Post »

Wuiihh, judulnya provokatif banget hihi. Mengamati gerhana tanpa alat, bawa anak-anak umur 7 tahunan pula, ckck, pasti ini ibu2 ceroboh! Mau dilaporin ke komnas anak ya mba?!  Tenang…tenang…biarkan foto2 berikut yg akan bercerita yaa, abis itu kalian bebas berkomentar apa aajaaa!

Sebelumnya, saya kasitau kalo lokasi kami menyaksikan gerhana matahari kemarin (9-3-2016) adalah  di kota Palu, yg mjd salah satu kota melihat gerhana 100% tanpa mendung!

Niat awal pengen ngajak sikembar salat gerhana krn kebetulan si Baba diundang jadi khatib, namun mendadak si Baba disms panitia masjid: diminta pula jadi imam! Ampun dah klo si Baba jadi imam, katanya dia pengen baca 1 juz per rakaat. Ckckc…bisa2 sikembar gak sabar berdiri lama trus tiba2 keluar sendiri melihat gerhana. Kan gawat jadinya!

Akhirnya, pasrah, gak ikutan salat gerhana. Cukup salat duha’ aja bareng sikembar di rumah hihi. Abis salat duha’ sikembar bertanya ttg gerhana, saya jawab dg satu kalimat: ade sama kaka langsung nonton saja yaa biar tahu apa itu gerhana!

Pas mau ngajak sikembar ke halaman, wwwwhat!? lembaran rontgen  mama (persyaratan PNS kemaren) ternyata ketinggalan di kantor huuhu. Mana gak ada alat lain lagi! Jadi, pengalaman belajar sains secara langsung, di momen langka ini terancam gagal?! (lebih…)

Read Full Post »

Saat liburan semester sikembar selesai, kami membuat keputusan besar. Saya dan si Baba sepakat mengeluarkan sikembar dari sekolah dan memilih meng-homeschooling-kan keduanya. Homeschooling? What? Jadi kembar gak sekolah? Begitulah pertanyaan orang2 yang sudah tahu kalau sikembar sudah keluar dari sekolah. Biasanya kami hanya senyam-senyum saja meresponnya. Untuk menjawabnya, siapapun bisa tinggal tanya om google saja, ketik kata kunci ‘homeschooling di indonesia’, maka akan muncul sederat artikel dan sosok2 keluarga luar biasa yang sudah matang di dunia HS (homeschooling).

Sejak lama sebenarnya si Baba, suami saya menggelontorkan ide ini. Babanya pengen sikembar konsen aja di tahfiz Qur’annya. Tapi mengingat saya yang seorg ‘buruh negara’, saya selalu merasa tidak siap. Namun, alhamdulillah, setelah membaca beberapa buku parenting dan juga artikel2 teman2 HS di medsos,  dan melihat keyakinan di mata si Baba yang juga menghilangkan keraguan saya, bismillah! Saya pasti bisa!

Seingat saya, hal pertama yang saya lakukan adalah membuat daftar. Pertama, daftar kegiatan buat sikembar. Ada jadwal mingguan dan bulanan. Kedua, daftar buku bacaan buat kami dan sikembar. Ketiga, daftar belanja fasilitas belajar sikembar. Dan terakhir membuat daftar harapan dan cita2 alias target HS ini. Semuanya saya diskusikan dengan si Baba dan tentu saja si kembar. (lebih…)

Read Full Post »

Akhir-akhir ini saya mulai dihinggapi rasa khawatir. Sudah sebulan ini saya rela memvakumkan tesis, padahal sdh bab terakhir, demi mengabdi kpd almamater tercinta. Buku karya alumni, yg berjudul 1 Nama 1000 Kisah: Memoar Ag. H. Abd. Wahab Zakariya, MA. itu adalah proyek terbesarku tahun ini. Saya membayangkan senyum Bapak (almarhum) menyaksikan saya melanjutkan perjuangannya. Ya, ini memang seperti mendaki tebing 90 derajat. Tapi, ini masih lbh baik drpd tidak memberi yg terbaik. Meski tekad saya sdh sekeras karang, tetap saja kekhawatiran itu ada. Saya khawatir, harapan saya dan teman-teman panitia yg udah kerja keras akan berakhir dgn hasil yg tak sesuai harapan.

Tiba-tiba saja saya merenung malam ini. Sudahkah saya benar-benar mengabdikan diri utk proyek ini? Sudahkah saya ikhlas? Sudahkah saya memperbaiki niat? Bukan utk mengejar popularitas, bukan utk sekedar membuktikan nama besar Bapak?

Saya melihat kembali buku rekening panitia launching yg kemarin pagi sdh dicetak pihak bank dan laporan donasi di laptop saya silih berganti. Jumlah donasi yg masuk bahkan blm bisa dipakai utk menebus biaya percetakan padahal bulan Maret sudah berlalu. Sisa sebulan lagi launching buku. Sepertinya…sepertinya…saya yg harus mengulurkan tangan lbh panjang.

Dan tiba-tiba saja saya diingatkan atau mungkin diperingatkan olehNya. Tentang sebuah janji Allah yang begitu indah Ia rangkum dalam QS. al-Baqarah ayat 261-268. Saya memaknai ayat demi ayat, bahkan membaginya di page fesbuk saya agar semua juga merenungi kembali teori sedekah itu. Begini hasil pemaknaan saya:

ayat 261: jika bersedekah dg ikhlas maka balasannya seperti menanam satu biji lalu tumbuh dg menghasilkan 700 biji.
ayat 262: jika bersedekah dg ikhlas maka balasannya ada dua: ukhrawi yaitu pahala dan duniawi yaitu psikologis yg sehat yg senantiasa terbebas dr gundah-gulana
ayat 263: jika ga mampu bersedekah dg ikhlas, cukup dgn berkata baik dan meminta maaf kpd org yg meminta sedekah. itu lbh baik drpd sedekah sambil ngomel 😀
ayat 264: jika bersedekah sambil ngomel ato gak ikhlas maka jgnkan dapat balasan10 kali lipat, senilai recehan 25 sen pun tidak 😀 Seperti tanah yang mengendap di atas batu yg mendadak tersapu bersih oleh hujan lebat. 

ayat 265: jika bersedekah utk semakin dicintai Allah maka balasannya dua kali lipat. Seperti kebun yg meski gak diguyur hujan lebat, maka gerimis saja bisa membuat kebun itu menghasilkan buah 2 kali lipat.
ayat 266: jika rajin menumpuk harta tp pelit bersedekah atau bersedekahnya ga ikhlas, maka seperti org yg punya kebun berlimpah hasilnya, subur tanahnya, ttpi saat ia telah renta dan anak2nya membutuhkan bantuannya, kebunnya malah diterjang paceklik lalu terbakar tanpa sisa.
ayat 267: jika ingin bersedekah, pilihlah sesuatu yg bagus2 utk disedehkan, bersedekahlah yg terbaik.
ayat 268: dan manusia yg kikir bersedekah itu karena selalu dibisiki oleh syaitan ttg bayang2 kemiskinan. dlm hitung2annya, smkn byk bersedekah, semakin berkurang uang jajan 😀 (lebih…)

Read Full Post »

10 maret 2008-10 maret 2013

10 Maret datang lagi. Kali ini kami gak pergi kemana-mana buat ngerayain ultah pernikahan. Di rumah saja. Saya pun kepikiran buat ngadain tasyakuran bareng santri-santri yang tinggal di asrama “Puang Jarre”. Tema tasyakurannya adalah: “dari hati ke hati”. Apaan tuh?! Hahah. Jadi, maksudnya gini. Dari hati, artinya saya dan suami memberi mereka makan malam gratis dgn lauk special yg langka bagi santri yaitu fried chicken plus sup en sambel. Sebelum ashar saya udah pesan ke warung terdekat yg memang masakannya udah terkenal enaknya. Dari hati, juga artinya saya pengen berbagi kebahagiaan dg santri2 karena kami sdh menganggap mereka seperti bagian keluarga.

Lalu ke hati? Tentu saja saya ingin tahu apa sebenarnya pikiran mereka tentang kami selama ini. Kami juga ingin tahu dan memahami apa uneg2 mereka selama mereka mondok di pesantren ini. Karena dgn begitulah, saya dan suami akan bisa berintropeksi sekaligus meningkatkan profesionalitas kami sbg pendidik. Juga, karena momen ini adalah hari yg penting bagi kami, kami gak mau sekedar jadi “suami dan istri yg baik”, tetapi juga “bapak dan mama” yg baik. Untuk anak kembar kami, dan anak-anak santri kami.

Maka jadilah setelah makan malam bersama itu, saya menodong mereka untuk menuliskan isi hati mereka.

Itu kami anggap sebagai kado. So, tulisannya yg special yaaa!

Saya beri waktu 10 menit utk menulis. Saya dan suami masuk ke dalam, agar mereka bisa menulis dgn bebas. Dan setelah 10 menit berlalu, kertas demi kertas itu tlah terkumpul. Tapi, ada seorang santri yg masih asyik menulis. Beberapa menit kemudian saya menunggu, dia masih menulis. Sampai akhirnya suami saya bilang:

Klo udah selesai, kamu kumpul saja di meja saya, ya!

Namun, setelah menit-menit kembali berlalu, santri yg bernama Jamal itu lantas berkata:

Pak, boleh jadi PR yaa? Tulisan saya msh panjang…

Saya tertawa. Kayaknya dia mau sekalian bikin novel hahaha.

(lebih…)

Read Full Post »

Setelah buku indie perdanaku booming, aku jadi kehilangan waktu banyak buat diriku sendri, terutama buat keluarga kecilku. Padahal, di halaman persembahan buku Mata Air 100 Juta itu aku menulis:

teruntuk kedua anakku, Azka dan Ahda, mata air kekuatanku…

dan di halaman cerita “Me and My Twins” halaman 28 aku menulis:

Masihkah kau mengingatnya?
Saat kukatakan padamu
bahwa aku tak butuh barang mewah
ataupun harta nan berlimpah
cukuplah keluarga, hartaku yang paling berharga

But, so sad, aku tak bisa memenej waktuku dgn baik. Hape tak berhenti berdering, inbox FB dan wall juga terus-menerus ramai. Aku tak punya asisten untuk menangani para pemesan bukuku, dan mau tak mau aku harus terjun sendiri. Aku tidak mau mengecewakan mereka. Untungnya, suamiku mau mengerti. Untungnya lagi, cetakan kedua langsung habis, dan ada sedikit JEDA untuk menanti cetakan ketiga, ada waktu untuk bernafas sejenak…sebelum pemesan membanjir lagi. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »