Keluar dari Sekolah, Kembali ke Sekolah Sesungguhnya

Saat liburan semester sikembar selesai, kami membuat keputusan besar. Saya dan si Baba sepakat mengeluarkan sikembar dari sekolah dan memilih meng-homeschooling-kan keduanya. Homeschooling? What? Jadi kembar gak sekolah? Begitulah pertanyaan orang2 yang sudah tahu kalau sikembar sudah keluar dari sekolah. Biasanya kami hanya senyam-senyum saja meresponnya. Untuk menjawabnya, siapapun bisa tinggal tanya om google saja, ketik kata kunci ‘homeschooling di indonesia’, maka akan muncul sederat artikel dan sosok2 keluarga luar biasa yang sudah matang di dunia HS (homeschooling).

Sejak lama sebenarnya si Baba, suami saya menggelontorkan ide ini. Babanya pengen sikembar konsen aja di tahfiz Qur’annya. Tapi mengingat saya yang seorg ‘buruh negara’, saya selalu merasa tidak siap. Namun, alhamdulillah, setelah membaca beberapa buku parenting dan juga artikel2 teman2 HS di medsos,  dan melihat keyakinan di mata si Baba yang juga menghilangkan keraguan saya, bismillah! Saya pasti bisa!

Seingat saya, hal pertama yang saya lakukan adalah membuat daftar. Pertama, daftar kegiatan buat sikembar. Ada jadwal mingguan dan bulanan. Kedua, daftar buku bacaan buat kami dan sikembar. Ketiga, daftar belanja fasilitas belajar sikembar. Dan terakhir membuat daftar harapan dan cita2 alias target HS ini. Semuanya saya diskusikan dengan si Baba dan tentu saja si kembar.

Pertama kali kami bilang ke mereka untuk sekolah di rumah saja, tak diduga mereka sangat bahagia. Bahkan si Kaka sampai melonjak kegirangan seperti terbebas kejaran kecoak haha. Si Ade meminta syarat, harus ada meja dan kursi belajar. Gawat! Untunglah mamanya yang kere’ langsung menyalakan lampu ide: akhirnya meja lesehannya yg penyangga besinya udah rusak, dipermak kembali. Kamar dan ruang belajar sikembar memang sudah berkarpet, jadi gak masalah klo harus duduk lesehan. Lagipula, sistem HS yang kami punya tidak melulu duduk menulis dan belajar. Justru lebih banyak kegiatan bergeraknya seperti bikin2 prakarya, berkebun, bermain, dan jalan2 sambil belajar.

 

Meja rusak yg dipermak
Meja rusak yg dipermak

Demikianlah, hari berlalu demikian cepatnya. Kami pun mulai bisa beradaptasi dengan pola sekolah yang fleksibel ini. Bagaimanapun, kami gak ingin kehilangan masa-masa mendidik mereka. Ada kepuasan tersendiri jika saya melihat langsung hasil didikan kami, mengikuti langsung potensi2 yang tadinya ga terlihat menjadi terlihat. Kalo kami ke kampus, sikembar pun ikut. Kadang mereka ikut duduk di dalam kelas, menyimak apa yang dipelajari mahasiswa. Kadang pula mereka mengikuti kelas tahsin dan tahfiz di pesantren.

Usia homeschooling kembar layaknya masih tanaman yang baru ada tunasnya, yg akarnya masih halus. Namun, beberapa lompatan yang dilakukan sikembar membuat kami sering terperangah, kaget, gak menyangka. Kemampuan berbahasa arab dan inggris sehari2 mereka semakin baik. Mereka sama sekali gak ada masalah dengan “hari berbahasa” yang kami terapkan. Bahkan saat ada tamu bertandang ke rumah atau dengan berinteraksi dengan mahasiswa di kampus, sikembar tak sungkan lagi berbahasa asing. Selain itu, mereka semakin hari semakin haus membaca. Sampai2 kami kadang harus minta maaf karena belum sempat membelikan mereka buku baru. Dan mungkin karena membaca itulah, sikembar saya lihat ada bakat menulis. Pertama kali kami meminta mereka menulis cerita, tulisan mereka sudah sampai satu halaman lebih! Dan alur dan gaya penceritaannya sudah jauh melebihi ekspetasi saya. Udah ngalahin rekor mamanya yang bisa nulis pas kelas tiga SD hehe.

Dulu, saat sikembar saya sekolahkan di sebuah madrasah terpadu, rasanya saya seakan lepas tangan. Mungkin karena saya berpikir, di sekolah yang nyaris fullday, sikembar udah dihandle dengan baik oleh ustazah2nya. Belum lagi kesibukan saya dan Babanya. Tetapi di sinilah letak kesalahan kami. Dengan menyekolahkannya di luar, kami seperti memindahtangankan tanggungjawab pendidikan ke sekolahnya. Akhirnya, apa yang sikembar dapati adalah apa yg didapatinya di sekolah, bukan di rumah!

Klo sekarang saya ingat2 semuanya: berapa puluh tahun yang sudah saya sia-siakan, rasanya nyesek, nyesel tujuh lapis langit hiks. Tapi tidak ada kata terlambat utk memperbaiki, utk berproses dan lebih banyak belajar. Insya Allah, ke depannya saya ingin menjadi ibu yang lebih baik lagi. Doanya ya J

Sekarang ini saya dan si Baba sudah mulai enjoy dengan kegiatan2 HS sikembar. Saya bergabung dengan beberapa grup khusus keluarga HS dan grup watsap ibu2 HS Muslim Nusantara untuk saling memotivasi dan mendukung kegiatan HS ini. Sejauh ini,saya belum menemukan keluarga HS di kota Palu. Kendala lain yang kami hadapi adalah kurangnya acara2 dan klub edukasi untuk anak di kota ini. Jadi kamilah yang harus aktif nanya dan mencari info kesana kemari.

Jadi begitulah ceritanya. Ke depannya, insya Allah saya akan banyak memposting kegiatan2 HS sikembar. So, dont kiss it eh miss it ya! 😀

 

 

Welcome to Our Real School!
Welcome to Our Real School 😀
Iklan

5 respons untuk ‘Keluar dari Sekolah, Kembali ke Sekolah Sesungguhnya

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: