Belajar Storytelling

Sejak kecil kami selalu menjadikan “bercerita” sebagai pengantar sebelum tidur sikembar. Kadang pula saat sikembar sedang “down” atau “jenuh” menghapal Qur’an, Babanya akan bercerita sebagai selingan sebelum mereka lanjut menghapal lagi. Saat mereka menginjak umur 9, perlahan-lahan mereka jarang banget meminta kami bercerita sebelum tidur. Mungkin karena mereka merasa sudah mampu memahami saat membaca cerita2 langsung dari buku.

Minat membaca sikembar bisa dibilang semakin tinggi. Setiap kali saya mengintip, mereka pasti sedang membaca di kamarnya, bahkan seringkali saya mendapati mereka tertidur dengan mendekap bukunya :d

img20180305204211.jpg

Namun saya menyadari satu hal, sikembar gak pernah saya latih bercerita alias storytelling. Sebenarnya storytelling ini adalah sebuah skill yang penting untuk menumbuh-kembangkan bakat “presentasi” dan cara berpikir anak. Bahkan di zaman now, storytelling menjadi metode hypnosis yang “terselubung”, yang jika materi dan caranya bagus, akan menciptakan perubahan besar bagi pendengarnya.

Kebetulan sikembar dapat tugas menceritakan salah satu kisah dari para Nabi. Tugas tersebut harus direkam (cukup audio saja) atau divideokan. Saya memilih merekamnya dalam bentuk video. Pertama, untuk melatih “mental” sikembar di depan kamera haha. Kedua, agar saya dan sikembar bisa mempelajari kelemahan dari ekspresi muka dan cara bertutur.

Awalnya saya yang merekam dan mereka yang bercerita. Karena ini pengalaman baru bagi mereka, saking groginya mereka harus “take” sampai 4 kali :p padahal klo dipikir2, seharusnya ini mudah karena mereka bukan anak yang kalem atau pendiam.

Akhirnya saya berpikir, jangan2 mereka gak merasa nyaman dan leluasa jika saya yang merekam. Saya pun membiarkan mereka merekam sendiri. Sikembar terdengar “heboh” di kamarnya, tapi saya sengaja gak mengintip atau curi2 dengar agar mereka lebih bebas berekspresi.

Setelah rekaman mereka selesai, saya pun mengevaluasi. Di awal-awal bercerita, Ahda sangat ekpresif namun selanjutnya monoton. Sebaliknya, Azka tampak monoton dan kaku di awal, namun di akhir2 bercerita ekspresinya sudah lepas. Namanya juga baru pertama kali, pasti ada “trial dan error”nya kan. Dari pengalaman ini saya pun menjadikan kegiatan storytelling sebagai salah satu fokus pengembangan skill mereka di tahun 2018. Semoga konsisten, amin 🙂

NB: tips2 dan teknik bercerita saya temukan dibahas lengkap oleh blog ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: