[Diari HS] Membuat Da Vinci Bridge dari Stik Es

Salah satu skill yang menurut saya harus dimiliki anak abad modern adalah engineering skill. Sekurang-kurangnya anak dapat melihat bagaimana konsep matematika, sains, dan teknolgi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikembar sebenarnya udah belajar mengasah skill ini lewat lego atau brick. Bagian-bagian lego dapat dibongkar-pasang mengikuti konstruksi yang disediakan di dalam kemasan, atau lewat imajinasi sikembar. Saya sudah pernah memposting foto-foto hasil kreasi brick tersebut di postingan sebelum-sebelumnya 🙂

Nah, kali ini saya menantang skill engineering mereka lebih jauh lewat stik es dan tusuk sate. Mereka akan menyulap bahan itu menjadi sebuah konstruksi yang tidak membutuhkan perekat atau pengikat. Namanya Self Supporting Bridge yang merupakan karya dari Leonardo Da Vinci yang jenius itu.

Berikut dokumentasi pembuatannya:

20170608_110401
Stik esnya kami buat lebih panjang
20170608_110643
Pertama-tama buat susunan seperti ini
20170608_111755
Sikembar memberi warna agar mudah membedakan susunannya
20170608_112100
on progress…sisa 4 stik lagi
20170608_112515
final touch
20170608_161700
Jadinya seperti ini….melengkung

Terhitung sikembar gagal 5 kali sebelum berhasil 😀
Kegiatan ini memang menantang khususnya bagi anak-anak. Bukan hanya mereka harus sabar, tapi juga bagaimana membangun kerjasama tim yang baik. Itulah spesialnya belajar engineering, krn anak gak cuma kreatif, tetapi juga membangun kolaborasi dan komunikasi dengan temannya agar model yang dibangun itu sukses.

Saat azka berusaha memasukkan tusuk sate ke sela stik es itu, ahda harus memegang stik yang sudah terbangun agar gak roboh. Bahkan saya sampe turun tangan memegang stiknya :p Neneknya sikembar sampe ketawa ngeliat jembatan itu gak selesai-selesai. Dikit lagi, eh malah ambroollll. Neneknya sikmbar pun sempat komen:

kenapa tidak dilem atau diikat aja biar gak ambruk? Stres klo cape2 bikin, udah panjang, eh roboh

Saya jawab: ya memang gitu, Ma. Intinya kan jembatan ini keseimbangan, gak pake lem atau tali. Tantangannya ya di situ.

Alhamdulillah rupanya sikembar gak menyerah. Saya malah udah kapok, mereka tetap lanjut. Ba’da ashar, jembatan ala Da Vinci itu pun berhasil berdiri dengan kokoh. Sikembar malah membiarkannya nongkrong di ruang tengah. Jangan dirusak ya, Meong! kata mereka sama si Meong yang lewat dekat jembatan hahaha.

Membuat salah satu Da Vinci Model ini sebenarnya bisa juga tanpa tusuk sate, cukup dengan stik es yang biasa (yg ukuran biasa). Sikembar juga sempat coba, dan hasilnya seperti ini:

20170608_101254

Setelah jembatan selesai, sikembar mulai menganalisa bentuk jembatannya. Oohh, begitu yaa. Akhirnya mereka paham, klo jembatan oppa Da Vinci ini memakai sistem “self supporting” dan titik terberatnya ada di tengah. Saya pun cerita ke sikmbar klo dulu, jembatan ini buat siasat melawan musuh. Jembatan dibuat tanpa pake semen dan alat2 tukang yang ribet agar pasukan dpt membangun dg mudah, sekaligus dapat menghilangkan jejak jembatan dengan cepat. Gara-gara cerita itu, sikembar jadi penasaran mengenal Da Vinci lebih jauh. Kapan2 kita praktik model Da Vinci yang lain ya, Kids! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: