Ayah Ibu Bekerja, Anak Homeschooling, Bisakah?

Ini adalah pertanyaan yang paling banyak terlontar di forum-forum parenting hingga grup homeschooling. Beberapa keluarga berpikir jika ayah dan ibu sibuk bekerja, apa mungkin anak-anak bisa disekolah-rumahin aja?

Dulu juga saya berpikir seperti itu. Saya sendiri seorang buruh negara (dosen PNS di sebuah PTAIN), sedangkan suami meski bukan PNS tapi lebih sibuk dari saya. Di rumah kami gak ada asisten, pun sanak saudara. Hanya mama saya yang kadang datang, nginap paling lama sebulan. Punya dua anak laki-laki yang super aktif, kebayang kan kalo pendidikannya mereka kami juga yg mengurus semua?

Kami hanya berbekal keyakinan dan doa. Akhirnya, alhamdulillah, sikembar sampai sekarang ‘gak sekolah’. Dari tahfiz hingga materi pembelajaran, kami handle mandiri ๐Ÿ˜€

Berikut tips-tips yang bisa saya bagikan, terutama bagi ibu pekerja di luar rumah yang berniat mau menghomeschoolingkan anaknya:Tanamkan kemandirian pada anak sejak dini. Anak mandiri akan meringankan beratnya tugas ayah bunda. Beberapa kemandirian yang telah dilakukan sikembar di antaranya: kegiatan beres2 rumah sehari2, salat 5 waktu, muraja’ah hapalan, mengerjakan PR, membaca, dan sudah bisa ditinggal di rumah tanpa kami ortunya. Saat kami bersamaan keluar rumah, sikembar kami beri tugas misalnya, muraja’ah satu juz, gak boleh nonton kalo mama belum datang, atau mengangkat jemuran kalo hujan dan lain lain. Jadi ketika pulang, kita pun bisa langsung mengecek sejauhmana mereka menyelesaikan tugas tadi.

  • Semua anggota keluarga harus terlibat. Jangan ada yang hanya jadi penonton saja. Jangan ada yang lepas tangan. Homeschooling intinya adalah kerja tim, bukan kerja individu. Jadi satu sama lain harus turun tangan. Misalnya, ketika ibu tidak sempat memasak, ayah menggantikan. Ketika ayah tidak sempat mengantar anak, ibu yang menggantikan. Saat ada kegiatan belajar, ayah dan bunda bergantian menjadi pengarah. Jangan malas meski sama-sama capek. Klo kata suami saya: kamu ikut membantu cari nafkah padahal itu bukan kewajiban kamu, maka saya pun wajib membantu kamu urusan rumah tangga (beres2, masak, dan didik anak).
  • Kalo ayah ibu pulang ke rumah dalam kondisi sangat lelah, berkomunikasilah dg anak secara bijak. Anak tentu saja belum paham dan gak mau tahu kondisi kita di luar sana, mereka butuh perhatian setelah lama kita tinggalkan. Pulang rumah, anak-anak langsung minta ditemani membaca, narik baju minta ini itu, nanya ini itu, pasti rasanya tambah capek ya. Bilang ke anak, “beri mama waktu 30 menit istirahat ya, mama masih capek. klo capek, ntar belajarnya gak seru.” Bisa juga dengan melakukan kegiatan yang ringan saja sepeti mendongeng (biasanya saya cukup gugel dongeng anak lalu membacakan ke mereka), atau menonton bareng.
  • Jangan membawa kerjaan kantor ke rumah. Ini sudah menjadi prinsip kami. Saya sendiri, sebanyak apapun tugas dari atasan, saya gak akan membawanya ke rumah. Membawa kerjaan kantor ke rumah hanya akan membuat anak2 semakin kehilangan waktu bersama kita, juga akan membuat rumah jadi “stres”. Udah stres di tempat kerja, masa’ mau stres juga di rumah :p
  • Minta bantuan pihak ketiga. Pada hal tertentu, ada bidang yang tentunya tidak kami kuasai. Jadi harus diserahkan pada ahlinya. Misalnya, anak-anak ada bakat karate, atau ada minat di eksakta, maka carilah lembaga kursus atau guru privat.
  • Maksimalkan internet sebagai sumber belajar anak. Sekarang ini apa sih yang gak bisa dicari di internet? Anak mau belajar tentang ini, itu, ayah dan bunda sisa pandai-pandai memilih sumbernya. Internet bukan hanya memperpendek jarak dan menghemat waktu, tetapi juga biaya. Saya sendiri kalo sibuk, gak sempat bikin persiapan belajar sikembar, cukup buka internet. Gugel sebentar. Ketik kata kunci. Lalu print atau anak-anak langsung diajak ‘keroyokan’ di depan laptop ๐Ÿ˜€
  • Manfaatkan weekend atau hari libur. Biasanya nih beberapa keluarga memilih weekend nya ke pusat perbelanjaan atau makan-makan. Kalo kami lebih banyak milih di rumah aja. Paling2 berkunjung ke rumah teman-saudara. Klo keluar rumah, ntar pulang rumah ujung-ujungnya tetap capek dan ujung-ujungnya pasti duit haha. Weekend biasanya kami isi dengan kegiatan seperti kerja bakti bareng, berkebun, bikin prakarya, masak-masak, nonton bareng, dan muraja’ah hapalan sikembar.
  • Bergabunglah dg komunitas homeschooling. Komunitas ada banyak bertebaran, terutama di dunia online. Dengan mjd bagian sebuah komunitas, kita gak merasa sendirian. Kita akan saling mensupport, memotivasi dan menguatkan. Di sana juga kita akan mendapatkan byk ilmu utk menjadi orangtua yang lebih baik lagi. Karena sekali memilih homeschooling, maka konsekuensinya sungguh gak mudah. Bukan gak mungkin kita akan menyerah di tengah jalan.

Tips-tips tadi semoga membantu. Kami juga masih banyak belajar dan belajar. Tips-tips tersebut bisa jadi ada yang kurang pas diterapkan di keluarga ayah bunda lainnya. Intinya, kita sama-sama ada kemauan utk maksimal mendidik anak. Adapun caranya, tiap org pasti berbeda-beda ๐Ÿ™‚

Iklan

4 respons untuk โ€˜Ayah Ibu Bekerja, Anak Homeschooling, Bisakah?โ€™

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: