Resume Kulwap Parenting Part 8

Waktu: 26 nop 2016 pukul 20.00 wib.
Tema: Satu Atap dengan Mertua
Narasumber: Affi Yunita Rahmah
Moderator: Mayyadah

Materi:
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Tema sharing kulwap saat ini adalah SERUMAH DENGAN KELUARGA MERTUA

Sebelumnya, dalam Islam tidak ada bahasan khusus mengenai hal ini, karena termasuk dalam lingkup komunikasi dan birrul walidain. Pada saat menikah, kewajiban suami adalah memberikan nafkah yang layak, salah satunya adalah tempat tinggal bagi istri. Kelayakan tsb bisa berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing. Namun dalam prakteknya di lapangan, ada beberapa poin yang patut diperhatikan:

  1. Apakah serumah dengan mertua dibolehkan atau tidak dianjurkan dalam Islam?

– Dalam Islam kewajiban anak adalah berbakti kepada orang tua, bahkan saat orang tua sudah tiada. Di saat berkeluarga, bagi anak laki-laki terutama, tetap berkewajiban menjaga ibu. Karena bakti seorang laki-laki dari lahir sampai dewasa adalah pada keridhaan ibu, sedangkan bakti perempuan sebelum menikah adalah kepada orang tua, dan sesudah menikah berpindah kepada suaminya. Maka dalam hal ini diperbolehkan bahkan dianjurkan berbakti, salah satunya melalui tinggal serumah dengan orang tua / mertua.

  1. Bagaimana jika kita ingin mandiri terpisah dari orang tua?

– Idealnya memang keluarga yang mandiri adalah keluarga yang hidup terpisah dari orang tua, sehingga meminimalkan ketergantungan baik materi atau moral. namun kembali lagi ke awal, jika orang tua menginginkan hidup bersama anaknya, maka tidak ada msalahnya kita ikuti sebagai birrul walidain.

jika tetap menginginkan terpisah, kemukakan alasan yang bijak, dan cari tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari orang tua, dalam artian masih memungkinkan sering menjenguk bersilaturahim.

  1. Bagaimana jika mertua adalah ayah saja (ibu mertua sudah wafat)?

– Dalam Islam, ayah mertua termasuk mahram. jadi sah saja jika tinggal bersama ayah mertua. Dengan catatan, tidak ada hal-hal negatif yang merugikan istri (keluarga inti). Karena bagaimanapun juga, suami merupakan pemimpin dan pelindung keluarganya. Jika istri / suami merasa suasana tidak kondusif, atau bahkan -naudzubillah- menjurus pada terancamnya kehormatan istri, maka lebih baik pindah dari rumah tsb.4. Bagaimana jika terjadi gesekan antara menantu dan mertua?
– inti dari hal ini adalah komunikasi 2 arah. Bagi yang muda (istri /suami) hendaknya mencari tau apa yang disukai dan tidak disukai mertua. bila memang gesekan emosi terjadi karena faktor usia (biasanya secara psikologis, semakin tua akan semakin seperti anak kecil) maka hendaknya kita memaklumi. Bisa jadi kelak kita pun seperti itu

Tapi jika gesekan terjadi karena hal sepele kemudian membesar (atau dibesar-besarkan), suami hendaknya jadi penengah. Ambil kebijakan yang adil baik untuk istri atau orang tua. jika diperlukan, demi keharmonisan kedua belah pihak, berilah tempat tinggal lain untuk istri. Karena di antara 2 kemudharatan, hendaknya kita ambil yang terkecil mudharatnya.

Wallahua’lam

Sesi tanya jawab pre kulwap:

  • Bun umi: bgmn cara menjelaskan ke mertua bahwa memenuhi keinginan anak tdk selalu benar. Misal, setiap anak berbuat salah sang nenek selalu membela dng dalih “diakan masih kecil”. Sehingga sang anak setiap ada kesalahan pasti ke neneknya. Trus bagaimana jg cara memahamkan ke org tua agar tdk memarahi kita didepan anak.? Makasih

Jawaban:
Bismillah,
Pastikan dulu kita satu visi dengan suami ttg sistem pendidikan anak, bunda. Jika kita dengan suami sudah sepakat, melalui suami, kita bisa smpaikan ttg cara kita mendidik anak ke mertua. Cara menyampaikannya tidak harus “kaku” empat mata. Bisa sambil ngobrol santai, kita masuk ke tema pelan-pelan. Kita yang lebih paham bagaimana sifat orang tua kita.

Namun bila orang tua /mertua tetap kukuh dgn prinsipnya yang “sayang cucu”, kita bisa tanamkan pemahaman kita langsung ke anak, saat kita bersama mereka. Misalnya “Kak, boleh sesekali jajan, tapi ditemenin ayah ya?” Saat kita ingin mendidik anak untuk tidak banyak jajan sembarangan.

Untuk orang tua yang memarahi kita di depan anak, memang gampang2 susah, bunda umi. Orang tua manapun, mayoritas lebih sulit menerima masukan atau kritik dari yang lebih muda (anak). Karena beliau2 berpegang pada apa yang mereka alami dulu.Silahkan komunikasikan dengan suami, biarkan suami yang menyampaikannya… yang penting, kita tidak meniru hal tsb (memarahi / bertengkar di depan anak).

  • Pak rayyan:
    Bgaimana jikalau dlam satu rumah itu trdapat juga anggota kluarga lain dari saudara atau ipar. Yg pastinya ada perbedaan pandang dan prinsip & ortu sendri yg mengharapkan agar tinggal brsma. Jikalau kita yg muda apa harus mengalah atau ttap pada pndirian. Dsisi lain jikalau kita tinggalkan ortu mrasa tersinggung dan mrsa klw kita tidak mau berbakti kpdanya?

Jawaban:
Bismillah,
Pak Rayyan, saat kita berbeda pandangan dengan saudara ipar, jika masih bisa dibicarakan bersama, maka tahanlah diri kita, tetap hormati mereka sebagai saudara tua. Bila sudah dibicarakan baik2 belum ada solusi, maka berinteraksilah seperlunya saja dengan mereka, namun jangan sampai melibatkan orang tua.

Puncak nya, bila sudah benar2 tidak mampu, sampaikan kpd orang tua, dan carilah tempat tinggal lain, karena tujuan berkeluarga salah satunya adalah sakinah, menenangkan hati. Bgaimana akan tercapai bila terus ada perselisihan di rumah? Kita bisa mencari tempat tinggal yang berdekatan, sehingga tetap bisa merawat orang tua namun terpisah dari saudara. Atau kita ajak orang tua tinggal bersama kita.
-Wallahua’lam

  • Ummu: saya ada bbrp pertanyaan:
    1. sy tdk mau dibenci oleh mertua,krn sy tdk suka berkonflik dg siapapun, krn prinsip ini sy mrsa sering membebani diri sndri, contoh kasus misalnya fisik sy lemah tp klo sdh di rumah mertua, sy jarang istirahat krn sy takut ada pkerjaan rumah yg tdk terselesaikan, smpai seringx sy kelelahan. sy mrasa jd tdk perhatian pd anak2 sy, krn sy lbh memikirkan bgmn membahagiakn mertua sy,
    2. bagaimana cara menjaga perasaan pribadi yg sll takut dg komentar2 mertua, krn mertua sy tipenya suka komen pd perkara apapun sdgkn sy tipex sgt perasa dan tdk bsa cuek.
    3. Apa solusi bg pasangan yg tdk memungkinkan utk pisah rumah dg mertua, mertua kami sgt pendikte, smntara kami selaku suami istri pny cara sndri dlm mendidik anak, mertua sy pernah bilang:”sy tau ini sdh bukan wilayah sy, tp gak bisa klo ga ikut campur namanya serumah.

jawaban:
Bismillah, bunda ummu,
Untuk pertanyaan 1 & 2 saya gabung saja ya..karena intinya ada di manajemen diri kita.

Menjalankan kewajiban kita sebagai menantu memang sudah seharusnya dilakukan. Tapi kita juga punya kewajiban untuk memenuhi hak kita, memiliki ketenangan hati.

Saya biasanya setelah melakukan tugas utama (menyediakan keperluan suami dan anak), baru mengerjakan yang lain, termasuk membantu mertua. Memasak misalnya.
Bisa juga menemani mertua ngobrol santai sambil beberes rumah. Biasanya kami cocok di tema tertentu, bahas politik yang sedang panas. Selanjutnya kita jangan sampai terlalu membebani diri sendiri dengan pikiran negatif, atau menyimpan uneg2 dalam hati. Berbagilah dengan suami..selain meringankan stress, melapangkan hati, juga mempererat ikatan emosional pasangan. Lebih baik kita fokuskan energi kita ke arah positif. Untuk merawat suami dan anak, meningkatkan kompetensi diri, baik dalam karir ataupun sebagai ibu.

  1. Pendikte disini maksudnya bagaimana bunda? Apakah semua yang beliau katakan harus dituruti, dipatuhi, atau sekedar “komentar”? Mertua saya dan saya sendiri pun tidak jarang berbeda pendapat. Bahkan pernah sampai tahap “sering diomeli”.

Yang saya lakukan, pertama kita pahami dulu watak mertua. Kalau “komentar terus terang blak-blakan” memang sifatnya, terimalah.. kita menikah, berarti kita bersedia menerima bukan hanya suami, tapi juga paket komplit beserta keluarga suami yang pastinya termasuk mertua. Bila komentar mertua berupa masukan positif, iyakan. Jangan dibantah. Lebih baik kita diam mendengarkan daripada bicara menanggapinya. Namun bila komentar tsb berbeda prinsip dgn yang kita anggap benar, jangan langsung konfrontasi dengan mertua. Itu justru tidak jarang memperburuk keadaan.  Kembali lagi pada komunikasi melalui suami. Atau bisa juga kita sesekali refreshing berjalan2 bersama mertua. Tak perlu jauh2 atau mahal. yang penting dari sana bisa terbangun ikatan positif yg lebih kuat.
Wallahua’lam

Tanya jawab sesi kulwap:

  • Bun dyah:
    gimana caranya menangani mertua yang serba gak bener apa yg kita lakukan. Trus menghadapi adik ipar yang gak sopan karna gak suka sama kita. Tanpa alasan yang jelas. Misal … Kita udah nyapu pagi. Nah sorenya beliau yg nyapu. Bilangnya: “Kayak gini kotornya kok katanya tiap hari nyapu”. Padahal kan sorenya udah kotor lagi dan kita blm smpat nyapu.

    Trus ada lagi.,. Si anak suruhnya dikasih makanan selain bubur. Pdhl tau klo anak itu kalau makan selain bubur muntah. Dan gak percaya. Tapi tetep disalahin. Katanya: “Gak kasian, daripada main terus ya dipegangin apa gitu biar bisa ngemil.”

jawaban:
Baik bunda Dyah, ttg kondisi tsb, sebaiknya memang ada komunikasi yang baik. Bukan tidak mungkin, satu saat bisa jadi “bom waktu” di keluarga. Disini sangat diperlukan peran suami sebagai penengah.

Bila bunda merasa sudah tidak tahan, coba minta izin ke suami untuk sekedar pulang sejenak ke rumah orang tua bunda Dyah. Tapi tujuannya merefresh diri, menyiapkan hati.
InsyaAllah tidak akan ada ujian yang melebihi kemampuan kita 😊

  • bun nita:
    Bunda affi mgkn bsa mnt tipsnya hidup rukun dg mertua? ☺ Apa kunciny kita sbg menantu hrs bnyak mengalah?

jawaban:
Betul bunda, memang sebagai menantu kita bisa jadi dilatih sering mengalah. Nasehat pernikahan saya, adalah banyak mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, tapi untuk mempertahankan pernikahan. Sekedar sharing, saya berbeda suku dengan keluarga suami. Jawa vs betawi, dengan adat yang jauh berbeda. Bertemu dengan mertua pun hanya sekali sebelum pernikahan. Jadi sampai sekarang juga masih banyak belajar untuk bertahan.

  • pak rayyan:
    Kalau disuruh memilih lebih baik mana ustadzah, merasa ga enak sama ortu/mertua atau sama ipar/saudara?

jawaban:
Utamakan orang tua / mertua.
Dalam Islam pun mertua masuk dalam mahram, berbeda dengan ipar, menjadi “orang lain”, bukan mahram. Maka hak orang tua / mertua harus didahulukan daripada saudara ipar. -Wallahua’lam.

Khatimah:
Alhamdulillah, Apa yang saya sampaikan tentu saja masih banyak kekurangan. Inti tema kali ini, kunci penting dalam keluarga adalah suami. Suami yang menjadi pemimpin, tapi juga penengah.Maka bagi para istri yang mengalami masalh ini, jangan ragu berkomunikasi dengan suami. Sebaliknya para suami yang saat ini bersama orang tua, jangan sampai pula mengorbankan hak istri. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan dalam keluarga kita semua, aamiin 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: