Resume Kulwap Parenting Part 5

Tema: Islamic Parenting (Hakikat dan Tujuan)
Pemateri: Abah Fadli Riza (ayah 4 anak, islamic parenthood coach dan founder Omah Tata Jiwa Yogyakarta)
Moderator: Mayyadah
Waktu: 7 Nopember 2016

MATERI PENGANTAR:

Banyak teori pendidikan dan psikologi yang terus berkembang, yang didasarkan atas logika semata. Abah mengajak kita semua yg ada disini untuk merenung.
bukankah yang lebih mengerti dan memahami bagaimana manusia diasuh, dikembangkan, dididik adalah YANG MENCIPTAKAN manusia itu sendiri
Allah Rabbul ‘izzati.

Jadi islamic Parenting harus dimulai dari keyakinan kita, bahwa Allah Maha Tahu tentang segala zaman dan manusianya. Sehingga kita harus sepakat dan YAKIN bahwa Qur’an dan Hadits telah memaparkan bagaimana pola pengasuhan itu di jalankan.

Yuk mulai dari nol.

Kita mulai dari Surah An-Nahl, Verse 78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Cara bersyukurnya :
Surah Al-Isra, Verse 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ILMU tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Jadi kompetensi Dasar dalam proses pengasuhan adalah :
1. Allah, tauhid
2. Mengajarkan bersyukur
3. Mencintai ilmu
4. Mengajarkan tanggungjawab

Dan iman qabla adab, adab qabla ilmu, ilmu qabla amal.
Seharusnya belajar ilmu mendidik anak dulu baru punya anak..
Di sinilah kita harus banyak istighfar ..Sesi tanya jawab:

  • Bu dahlia: Alhamdulillah materix sangat menarik,pertanyaan sy adalah kita mmg tau bhw pendidikan anak itu mmg tanggung jwab org tua,tp apakah tdk mnyalahi syariat ttg pndidikan jika orang tua menitipkan anakx pd org yg menurutnya baik dan bisa mendidik anakx yg tdk disanggupi org tuax.

Jawaban:
Tidak menyalahi syariat selama bukan menitipkan, tapi sinergi.
Karena kita memang harus saling melengkapi dengan orang lain , tapi cetak biru pertnggungjawaban tetap di ayahbunda. Jangan sampai anak merasa di ‘buang’ ‘dititipin’ saja. Tapi nilai hidup bahwa kita sedang belajar sama ortu yg ini.. jadi ngajarin anak untuk hormat pada yg lebih tua dan punya ilmu beda dengan kita..

  • Pak ali: Abah bisa dishare metode home educationnya agar anak cinta ilmu. Apakah abah mulai sejak anak.pertama msh kecil ato bgmn? Dan apa ukuran seorg anak itu dianggap cinta ilmu?

Jawaban:
Pertama adalah biasakan kalimat tanya dan memancing rasa jngin tahu.
Kedua anak dibiasakan dengan ayahbunda yang rajin belajar.
Ketiga siapkan perpustakaan dan terlibatlah, matikan TV dan gadget.
Keempat ajak anak traveling dan bertanya pada orang lain dan mencatatnya mungkin juga bisa dengan membuat film bersama…

Nah adapun isi kurikulum harus memenuhi 4 point

1, prinsip dan nilai hidup
2. Wawasan ilmu dan pengetahuan
3. Life skill
4. Spesialisasi

  • Bu yanti: Assalamualaikum Abah, saya ibu dari 2 anak laki-laki. Yang pertama usia 4tahun 1bln Dan yg kedua usia 16bulan.
    Anak saya yang pertama saya masukkan di TKIT di usia 3thn dengan alasan agar menstimulus dia u Mau berbicara. Karena sampai sekarang blm lancar merespon percakapan 2 arah. Tapi sdh bisa menyampaikan keinginannya sedikit2 Dan paham yang kita bicarakan. Tapi kadang saya suka marah ke anak pertama saya kalau sementara diajarkan sesuatu dia cuma senyum dan berlalu.
    Saya jadi takut kalau sering d omelin membuat dia trauma. Bagaimana sebaiknya menyikapinya yah Abah?

Jawaban:
Maaf bu, tiap anak berbeda perkembangan berbicaranya.
Stimulus dengan pelukan dan ajak bicara, atau kita sibuk bercerita.. apa apa diajarkan dikomentari untuk menanamkan nilai dan ilmu. Nah marah pada anak salah satu sebab terhambatnya kemampuan bicara…Dan cenderung menambah emosi negatif. Bagaimana dengan sang ayah, suka berdialog tdk ?

  • Bu rizky: Assalamualaikum.
    sy rizky. 24th. belum menikah.

    Stlh mengikut bbrp seminar dan membaca bbrp artikel, sy tertarik dgn program home schooling utk anak. krn kt bs lebih dekat dg anak dan kt dpt mengarahkan potensi yg dimilikinya. Sbgai calon org tua (insyaa Allah), apa2 sj yg penting utk saya persiapkan saat ini sblm nnti nya berkeluarga?

Jawaban:
Pertama, samakan dulu persepsi ayah dan bunda tentang parenting dan homeschooling,
Kedua, fahami tujuan dan tahapan perkembangan anak,
Ketiga, mulai menyusun program.

  • Bu lusi:
    Aslmkm, abah…
    Saya mau tanya. Anak saya usia 2th 8bl. Senang bertanya, bernyanyi, bercerita, istilah lainnya dia itu cerewet. Kadang capek/bosen nanggepinnya 😀 dan anak saya itu laki2…mosok cerewet ya!
    Gimana ya agar saya bisa mengarahkan kesenangannya itu jadi sesuatu yang baik, potensi yang bagus…

Jawaban:
Hehehee.., Jujur ya …ibunya cerewet nggak? Dan apakah ayahnya pendiam ?
(Bu lusi: hehhe iya)
Nah ayah nya diminta lebih banyak ngobrol sama anak lelakinya.. bisa lwt telponan.

  • Pak sabir:
    Adakah marah yang dibolehkan dalam islam dengan maksud mendidik sang anak…….?

Jawaban:
1. Yang tdk boleh itu marah emosinal (ghadhab) dimana selesai marah seperti ada energi yg keluar, biasanya spontan. Laa taghdhab walakal jannah.
2. Marah cerewet jangan sering sering, pastikan kita marah untuk hal yg prinsip, contoh : ketika anak malas sholat, ketika anak ketus sama ortu, ketika anak ndk mau menutup auratnya..Kalo sering diomelin, anak anak ndk faham mana yg prinsip mana yg tidak.

Sekian 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: