Resume Kulwap Parenting Part 2

Tema: TUMBUH BERSAMA AYAH

Pemateri: H.Aliasyadi, MA.
Moderator: Jusmiati
Waktu Kulwap: Sabtu, 15 Oktober 2016, Pukul 19.00 WITA
Grup: Kelas Parenting Mayyadah

Pengantar:

Peran ayah dalam mendidik anak tidak dapat dipungkiri. Bahkan al qur’an yang menjadi sumber inspirasi kami dalam mendidik anak mengisyaratkan hal tersebut setidaknya dalam dua hal. Pertama : Al qur’an merekam beberapa pesan-pesan akhlak seorang ayah  kepada anak lewat nabi Ibrahim, nabi Ya’qub dan Lukman. Kedua : Al qur’an merekam dialog anak kepada ayah berupa panggilan “wahai ayahku” sebanyak delapan kali pada kisah Nabi Ibrahim, Ismail, Yusuf. Apa sih peran ayah ?

Pertama : Ayah menjadi faktor penyeimbang bagi jiwa dan pikiran anak. Peran ayah tidak sebatas mengisi kantong dan perut anak-anaknya. Lebih dari itu, ayah harus hadir mengisi kehidupan anak. Kehadiran ayah memberikan keseimbangan pada mental dan kejiwaan anak. Banyak sisi  akan berjalan pincang bila  hanya diisi oleh ibu.

Contoh 1: pengaruh dekapan dan pelukan seorang ayah kepada anak ternyata berbeda dari pelukan seorang ibu terhadap kejiwaan anak.  Dekapan ibu berarti perhatian dan kelembutan bagi anak. Tapi dekapan ayah berarti rasa aman pada  jiwa anak.

Contoh 2: cara ibu menyelesaikan persoalan biasa pasif. Sedangkan ayah menyelesaikan persoalan secara aktif. Saat ada kecoa di dalam rumah, mamanya kembar berteriak: awas ada kecoa, sini nak sama mama! Nanti digigit.  Saya sebagai ayah merespon sebaliknya. Jangan takut, ambil sapu nak, usir keluar.

Bila anak hanya terbiasa dengan solusi sang ibu, maka banyak masalah yang akan diselesaikannya dengan cara pasif. Ayah hadir di sini memberi keseimbangan.

Contoh 3:  Cara ibu memotivasi anak lebih kpd pendekatan perasaan. Ayah memotivasi anak lewat pendekatan rasional. Anak kami, Azka dan Ahda, sekarang tahfiz. Jika keduanya bertanya; Kenapa  saya harus hafal qur’an? Mamanya menjawab: Kalau azka ahda hafal al qur’an akan bikin mama senang dan bangga. Mama akan dimasukkan surga gara-gara azka dan ahda hafal qur’an.

Saya biasanya beda lagi, saya bilang: kalau azka dan ahda hafal al qur’an bisa bisa jadi imam, ikut lomba/ musabaqah,  kalau menang azka ahda bisa beli banyak mainan.

Kedua : Ayah bertanggung jawab mengarahkan keluarga untuk mencapai tujuan utamanya. Tujuan utama dan pertama rumah adalah tempat pembinaan akhlak. Ukuran berhasilnya ayah dilihat dari akhlak anak-anaknya.  Sulit mengajarkan dan memahamkan anak nilai akhlak lewat teori dan bahasa lisan. Mengajarkan akhlak itu lewat bahasa tubuh. Apa yang dilakukan orangtua lebih berpengaruh pada anak ketimbang apa yang diucapkan orangtuanya. Ayah harus mampu membuat sistem di dalam rumah yang berorientasi akhlak.

Contoh 1 :  Untuk memandirikan anak, maka rumah harus dibuatkan sistem dimana semua anak-anak bisa mandiri. Di rumah kami, semua anggota keluarga harus bisa melayani dirinya sendiri di dalam rumah. Anak-anak harus menyapu kamar sendiri, cuci piring sendiri, memilih baju sendiri, membereskan kasur sendiri, simpan baju sendiri. Sistem ini berjalan tanpa kami harus teriak-teriak mengingatkan anak-anak, karena kami memahamkan mereka lewat apa yang mereka lihat. Saya sebagai ayah, harus memperlihatkan mereka bahwa saya tidak pernah minta untuk dilayani seluruhnya oleh istri. Cuci piring sendiri, melipat baju sendiri, jahit baju sendiri kalau robek, semir sepatu sendiri, bikin teh sendiri. (Yang penting jangan makan dan tidur sendiri…hehe).

Contoh 2: Nilai lain yang ingin kami tanamkan pada anak adalah “konsisten”.  Azka dan Ahda dalam menghafal al qur’an tidak kami tekankan banyak dan cepatnya mereka menghafal. Yang utama adalah mereka konsisten. Selama setahun mereka hanya mampu menghafal 3 juz. Sehari kadang mereka hanya hafal 1-3 ayat. Yang kami syukuri mereka tidak pernah melewatkan seharipun tanpa menghafal. Bahkan saat demampun masih sempat menghafal. Saya tidak harus teriak-teriak memaksa mereka untuk menghafal, saya hanya butuh sabar meluangkan waktu sesaat duduk mendampingi mereka saat tahfiz.

Sekian.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Dari bunda Fitri: Uztad, bagaimana cara efektif mengkomunikaskan konsep parenting terkait peran ayah kepada suami agar bs sama2 mendidik anak misalnya dgn kondisi intensitas bertmunya ayah dgn anak2 yg sdikit ..ada tips atw caranya? Ada 1 lgi Uztad, bagaimana cara ayah mendidik anak perempuan…?

jawaban: bagikan ke suami info dan pengetahuan parenting,agar suami juga tahu bgmn perkembangan ilmu parenting sekarang. Bisa lewat share ke medsos suami, ikut seminar parenting bareng, belikan buku parenting, atau ikut grup parenting.

jika suami tipe pasif, maka istri silakan membuat/menulis program2 parenting di rumah lalu perlihatkan ke suami. mintalah pendapatnya dan komentarnya.

klo ia sdh setuju dg rancangan program tersebut, maka suami harus memilih satu program (minimal) di mana ia komitmen utk bertanggujwb disitu. Misalnya, program jalan2 anak, program membaca anak, dan sejenisnya.

jika suami jarang punya waktu bersama anak, maka ketika ia sedang bersama anak, diusahakan no gadget agar suami benar2 membersamai anak dan menebus waktu2 yang terlewatkan. Jadi, jgn sampe suami udah jarang di rumah, pas di rumah malah lbh asyik BBM, nonton sendiri, ato main laptop.

Utk parenting anak perempuan, kita bisa mengambil inspirasi pada kisah Maryam dan putri Nabi Syuaib. Maryam dibesarkan dalam lingkungan dimana kesuciannya bisa terus terjaga. Ayah Maryam, Imran, juga dg rela dan mendukung nazar istrinya agar Maryam mjd ‘pelayan’ di Baitul Maqdis. Bgeitupula putri Nabi Syuaib, yg diajarkan mandiri sejak kecil. Dlm ayat dikisahkan bgmn putrinya menggantikan tgas2 ayahnya, dan cara2 Syuaib berkomunikasi dg putrinya, mendgr pendapatnya, dll. Artinya, meski anak perempuan, seorg ayah hendaklah terlibat dalam mendidik karakter putrinya 🙂

  1. Dari bunda Suryanti: assalamualaikum, Uztad, saya dan suami tadi sudah membaca materi KulWapnya. Suami usul kalau bisa disebutkan Quran dan surah apa yg menyebutkan ttg peran ayah dalam pendidikan anak2? Supaya kami jg tau.

jawaban: Interaksi Lukman dg anaknya dalam QS Lukman 13-19. Cara Ibrahim meminta keputusan dan berdiskusi dg anaknya dlm QS. Ash-Shaffaat: 102. Lebih lengkapnya bisa dibeli buku “Inspirasi Parenting dari AL-Qur’an, bun 🙂 Di sana lengkap kajian ayatnya juga 🙂

  1. Dari bunda syamil: Anak saya Syaamil usia 8th. Alhamdulillah Syamil type anak yg patuh dgn aturan/jadwal yg dibuat (tentunya dengan kesepakatan bersama anak). Misalnya, salahsatu jadwal tahfidz yg kami sepakati, setelah magrib dan subuh. Suatu waktu, Syamil pernah bbrp kali bertanya, apakah teman2 saya juga melakukan seperti ini dirumahnya? Saya jawab: Mungkin nak, krn kalau qt tidak seperti ini, bisa saja hafalannya tdk bertambah dan hafalan sebelumnya jadi lupa. Pertanyaan saya, apakah ada pengaruh negatif/positif thd anak bila si anak melaju sendiri dgn hafalannya yang lebih jauh sementara tmn2x kelasnya memiliki hafalan yang sama?

jawaban: utk tahfiz, memang sebaiknya anak gak ikut target sekolah krn sekolah kan ada istilah libur dan formalitasnya. jadi sangat bagus jika anak konsisten di rumah. adapun jika anak nantinya hapalannya jauh melewati temannya, maka tugas ibunda adl menanamkan nilai2 tawadhu’ dan bagaimana anak juga semangat muroja’ah. Yg terpenting bukan “berapa hapalan”, tetapi kualitas hapalan 🙂

  1. pertanyaan Bun Asri: Assalamualaikum ust… Bgmn mempraktekkan konsistensi pd anak bayi???

jawaban: konsistensi seorang anak pada dasarnya berawal dari keteladanan ortunya. krn anak2 itu kan bawaannya memang “tidak konsiten” hehe, jadi dimulai dari ortunya dulu 🙂 Nanti anak akan otomatis mengikut kebiasaan yg dibentuk ortunya. Misalnya mau ajar anak konsiten tidur lebih dini, maka ortu jgn ada yg suka begadang.

  1. Bunda Mardina Brunei: Assalamualaikum.. maaf saya kurang mahir dengan bahasa indonesia.. saya dari brunei.. pertanyaan saya.. Menurut Barat, gaya penjagaan anak itu ada 4: 1) ibubapa yang diktator. Prihatin terhadap anak, tetapi tiada toleransi bersama anak.. 2) autoritatif/otoriter: ibubapa yang prihatin dan ada toleransi 3) ibubapa yang memanjakan anak 4) ibubapa yang tidak peduli sama anak.. Apakah pandangan islam menurut 4 kategori ini?

jawaban: dalam kenyataannya, setiap orgtua punya karakternya masing-masing. mereka punya kelebihan dan kekurangan. Dalam Parenting Islam, sebenarnya 4 karakter ini dibutuhkan, tetapi dengan proporsional, sesuai dengan waktu kapan karakter ini dibutuhkan.

Contoh kapan karakter diktator dan otoriter dibutuhkan: saat menanamkan nilai tauhid dan akidah kpd anak. Kapan karakter memanjakan anak: saat anak diberikan apresiasi atas sikap baiknya atau saat ia lelah/tired, sakit, dan sejenisnya. Karakter terakhir tidak peduli: kita tidak usah terlalu jika anak ada permintaan/request yang tdk penting/sia-sia.

  1. Pertanyaan Bunda Anna:Sy tertarik dg cara Azka ahda belajar.Anak sy 1 tahun, perempuan. Sy berharap sekali anak sy bisa Hafizah. Mulai dari masih janin di kandungan sdh sering sy perdengarkan murotal sampe sekarang. Pertanyaan: mulai usia berapa sebaiknya diajarkan menghafal ayat. Boleh share metode Azka ahda sehingga bs hafiz di usia relatif muda. Dan bagaimana ayah bs memainkan peranannya dlm hal ini ayah relatif sedikit waktu bersama.

jawaban: sebelum tahfiz, sikembar tamatkan dulu iqro’ dan belajar al-qur’annya. kami ajar mengeja umur 5 tahun. setelah khatam, saya mulai tahfiznya dengan metode “mendengar” dulu. kemudian kami ikutkan kelas tahsin. Tahfiz ba’da subuh. 1-3 ayat perkali setoran. ba’da dhuha memperlancar setoran. ba’da ashar muroja’ah. Biarkan anak tahfiz sambil bergerak/jalan/lari2/ krn dia sebenarnya mendengar.

Utk peran ayahnya, saya yg memang handle lagsung. jadi kami gak mengikutkannya di pesantren. setiap subuh saya mengajaknya ke masjid, dan sebagai imam, saya kadang membaca ayat yg mereka sedang tahfizkan.

  1. Selanjutnya bun Elsadina:Dri dini :Assalamu’alaikum ustd mau tnya, Untk tahfiz ank usia 2 dn 3 th yg efektif kn lewt sima’ (didengarkan) dn tikrar (diulang). Adkah tips2 khusus agar hapalan mreka bs istiqomah, krena kdg anak sy maunya ngaji yg dia hpal. Cntoh kalfin (3 th) sdh hpl ar rohman 8 ayat. Untk lanjut lgi dia blg g mau, diulang dri awal terus maunya.

jawaban: silakan dibaca jawabn saya ke bun Anna. intinya bagaimana anak itu “suka” bukan bgman kita target. Klo awal2 bun, biarkan saja dia memilih sendiri mana yg dia mau hapal. agar tahfiz gak menjadi “beban” bagi anak. Insya Allah nanti juga dia bisa istiqomah, selama dlm sehari itu dia “pegang” alqur’an

  1. Ummu Gaza: Assalamu’alaikum. wrb. menurut ustad, manakah yg lebih baik dikenalkan terlebih dahulu kpda anak..kemandirian/kedisiplinan (oleh ayah) atau pendekatan kasih syg (oleh ibu)? apakah disesuaikan dgn kebutuhan usia anak?
    Suami sy kebetulan lg melanjutkan pendidikan di luar kota, kdg pulangnya 2-3 minggu sekali…bgm cara agar si ayah tetap bisa berperan dlm mendidik dan mengasuh anak dlm kesehariannya, mhn tips2 ustad..jazakallah.

Jawaban: ibarat burung ,untuk terbang kedua sayapnya hrs seimbang.disiplin dan ksh sayang harus beriringan. disiplin bukan berarti tdk sayang.Sayang bukan selalu berarti tdk disiplin. Bahkan kedisiplinan juga bisa berasal dari ibu,, dan kelembutan dari ayah. Ayah ketika mendisiplinkan dg caralembut. contoh: membangunkan subuh sikembar sampai dia betul2 bangun, tdk lagsung dikagetkan tp disentuh wajahnya atau digendong 😀

saya tiap ramadhan, sebulan penuh di luar kota, meninggalkan keluarga. Tapi hampir setiap hari saya menelpon sikembar, bahkan via video call, dan mennayakan bagaimana hapalannya, apa tadi kegiatannya, belajarnya bagaimana.selain menelpon istri, bapak2 jg jgn lupa telpon anak haha.Jadi intinya, perhatian bisa tanpa “hadirnya” kita. Tapi hadirnya kita, kadang ada yg tanpa “perhatian”.

  1. pertanyaan bunda Irataswira: as.kum ! tabe ust. sy punya anak y pertama uda tmt SD dan alhmdulillh sd nyantri menghpl. dan anak y kedua awalx rajin menghpl wkt msh bersm2 kkx tp skr luar biasa malasx lg, skr sd kls 5 hap. br 2 juz tp sd lupa2 c enth knp bosan ato gmn pdhl parenting kami tetap.kami mhn solusi ust. dan tipsx.

jawaban:cari penyebab masalahnya terlebih dahulu. apakah anaklbh byk main games, nonton,. atau ada masalah dg ortunya: misalnya selalu dibandingkan dg kakaknya, atau bisa juga krn dr lingkungannya yg tidak mendukung

ajak anak bicara dan ajak dia bersama2 dg ibu ayahnya memikirkan solusinya. misalnya dia harus kembali tahfiz, 5 menit saja utk seminggu pertama. lalu pelan2 dinaikkan waktunya. tetapi, ayah ibu harus mendampingi.

  1. pertanyaan dari bunda Emagusnadi: Assalamualaikum,ustadz,sy dan suami brbeda latar blkng pendidikanny,kamipun brbeda pendapat dlm mendidik ank,tanpa kami sadari trkadang adu argumen didpn ank,apa ada efek negatif unt ank kami?

jawaban: tentu ada negatifnya bun. pertama, anak jd tertekan scr psikologis krn ortunya tdk harmonis. Kedua, anak akan kehilangan teladan dan idealisme dr sosok ortunya. Ketiga, anak akan meniru sikap tersebut saat ia bersama temannya atau kelak jika ia berkeluarga. sebaiknya adu argumen dg pasangan dilakukan di dalam kamar, atau tdk di hadapan anak. jika mash susah, maka bisa dg mengirim anak ke pesantren.

  1. Pertanyaan terakhir dari Bun Fitri Bunzi: Mengenai peran ayah bagi anak-anak ini, seringkali membuat sedih atau pesimis bagi teman-teman saya yang telah bercerai atau suaminya telah meninggal. Bagaimana kekosongan ayah ini bisa diisi oleh ibunya? Apakah bisa melalui paman atau kakeknsi anak? Atau bagaimana sebaiknya?

jawaban: dalam al-Qur’an, dlm kisah Nuh, istilah keluarga bknlah yg sedarah sedaging. Artinya, peran2 keluarga sebenarnya dpt diganti atau dialihkan ke orglain. Utk ibu single parent, bisa dgn mendeteksi kebutuhan apa yg dibutuhkan oleh anak lewat “sosok ayah” dan dengan kreativitasnya bisa mencover kebutuhan tsb. Bisa juga dg menghadirkan tokoh “fiktif” yang heroik islami, seperti melalui cerita2 para Nabi, sirah RAsulullah, atau tokoh2 yg diciptakan oleh ibu sendiri.

Dlm buku “Inspirasi PArenting dari AL-Qur’an”, istri saya menulis ttg perjuangan single parent dg mengkaji kisah Maryam dalam Al-Qur’an. Di siti bisa disimpulkan bahwa MAryam berhasil mendidik putranya meski tanpa suami krn ada “bantuan” Allah. Artinya, seorg ibu single parent jgn pesimis. Krn byk juga setahu saya ibu tanpa suami sukses mendidik anaknya :)✅

Penutup:
Anak bukanlah masalah, hanya orangtua yang kadang tidak tahu cara menghadapinya. Mari belajar lagi menjadi ortu yang lebih baik 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: