Resume Kulwap Parenting Part 1

Waktu Kulwap Grup Parenting Mayyadah: 3 oktober 2016, pukul 19.00 WITA

Pemateri: Mayyadah

Moderator: Jusmiati Usman

Tema: Al-Qur’an Sumber Inspirasi Parentingku


Bismillah…

Dalam kulwap ini saya gak akan membahas ttg parenting ala Montessori, Charlote Mason, atau sejenisnya. Materi parenting yg akan saya bagikan adl parenting Qur’ani, yang sumbernya tentu saja dari Al-Qur’an beserta kajian tafsirnya.

Mengapa Al-Qur’an? Bisa dikatakan bahwa semua pengetahuan dan wawasan ada dalam al-Qur’an. Materi al-Qur’an sifatnya syaamil, global, dan bisa diaplikasikan oleh siapa saja baik yang keluarganya tipe A, maupun keluarganya tipe B.

Ada beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang bisa dijadikan inspirasi dalam parenting. Di kulwap ini saya akan menyebutkan 2 contoh ayat:

Pertama: bagaimana sikap orangtua menghadapi kebiasaan buruk anaknya. Kebiasaan buruk anak berasal dari hal yang ia lakukan berulang-ulang. Perilaku tersebut akhirnya terprogram di otak sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Misalnya sang anak kecanduan game sampai lupa jam makan. Karena sikap anak sudah sampai kepada tahap “kebiasaan”, maka tentu saja tidak mudah menghentikannya.

Otak anak mengalami perkembangan di masa2 pertumbuhan. Olehnya itu, sangat penting bagi orangtua utk mengisi otak anak dg program-program yang positif. Dlm bbrapa kasus, anak yg kecanduan game dimulai dari pembiaran orangtua. Anak menangis, dibujuk dengan gadget. Ibu gak mau diganggu, anak pun didiamkan pakai gadget.  Akhirnya anak pun gak bisa jauh2 dari gadget. Tidak mudah menghilangkan kebiasaan buruk anak bukan berarti tidak mungkin (optimis dong!) 🙂

Ada beberapa cara bagaimana orangtua menghadapi kebiasaan buruk anak. Salah satunya kita bisa mengambil inspirasi pada cara Al-Qur’an mengeluarkan “larangan” atas sesuatu. Dalam al-Qur’an, larangan juga ada tingkatannya. Menariknya, larangan kepada kebiasaan tingkat berat, al-Qur’an tidak mengharamkannya secara serentak, tetapi step by step, pelan-pelan 🙂

Contoh yang paling sering dibahas oleh ulama adalah konsep larangan khamar. Ketika itu, org2 Arab nyaris susah dipisahkan dg minuman keras. Minuman keras ketika itu sama dibutuhkannya dengan air 😀 Olehnya itu, khamar diharamkan pelan-pelan.

Tahap awal, Al-Qur’an menjelaskan secara halus pada QS. An-Nahl: 67 bahwa memanfaatkan buah menjadi kamar bukanlah termasuk sumber rizqan hasanan (rezki yg baik. Tahap 2 , Allah menurunkan ayat Al-Baqarah: 219. Di situ diterangkan bahwa khamar memiliki sisi manfaat dan mudarat, namun mudaratnya lbh besar dibanding manfaatnya. Di tahap , larangan sdh mulai lebih tegas. Disebutkan dlm QS. Annisa: 43, agar muslim tidak salat dalam keadaan mabuk. Jadi pelarangan khamar di tahap ini hanya di waktu2 salat saja. Barulah setelah umat Rasulullah sdh dianggap mampu mengontrol diri utk tdk minum khamar di waktu salat, maka di tahap terakhir, akhirnya Allah pun mengharamkan khamar secara total (QS. Al-Maidah: 90-91).

Dari tahapan pelarangan yg dicontohkan al-Qur’an, kita bisa mengaplikasikannya dalam parenting. Langkah awal: kita jelaskan kpd anak apa manfaat dan apa kerugiannya dr kebiasaan buruk yg ia lakukan. Pilihlah waktu yg tepat utk berkomunikasi dg anak. Jika perlu, ajaklah anak membuat “list/daftar” efek negatif dari kebiasaan buruknya. Anak adalah makhluk yg kritis, maka bukalah pikirannya. Kadang orangtua melarang anak, tetapi anak gak paham kenapa ia dilarang. Ibunya cuma bilang: klo mama bilang gak boleh, ya ga boleh!

Tahap kedua, reward and punishment. Ayah dan ibu sebaiknya membuat kesepakatan bersama apa konsekuensi jika ia masih meneruskan kebiasaan buruknya. Berikan pula penghargaan/apresiasi atas kemajuan dan usahanya utk menghentikan kebiasaan buruknya. Dlm kaidah fikih disebutkan:

jgnlah sesuatu yg buruk dihilangkan dengan hal yg buruk pula.

Misalnya anak suka membentak/yelling, lalu orgtua melarang dg balas membentak lbh keras. Akhirnya kebiasaan membentak anak bukannya berhenti, malah menjadi-jadi.

Dalam pengharaman khamar tadi, ada tahapan di mana intensitas meminum khamar itu dibatasi yaitu pd waktu salat. Nah, dalam parenting juga begitu. Tahap selanjutnya, mulailah dg mengatur waktu anak: kapan ia harus pegang gadget, kapan ia boleh nonton, dan sejenisnya. Secara bertahap, pembatasan waktu diperpanjang. Misalnya, di tahap2 awal waktu main gamenya 3 kali dalam sehari. Tiga hari kemudian dibatasi menjadi sekali dalam sehari. Dan jika orgtua konsisten, maka kebiasaan main game anak akan mampu dihentikan dalam jangka sebulan! (dan ini sdh ada teman yg berhasil mempraktikkannya).

Inspirasi lain dari Al-Qur’an yang bisa kita aplikasikan dlm parenting adalah ayat Thaha: 132: wa’mur ahlaka bisshalati washthabir alaiha, la nas’aluka rizqan, nahnu nazuquk, yang artinya:

Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam bersungguh-sungguh untuk mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, tetapi Kamilah yg memberi rezki kepadamu….

Ayat ini diawali dengan kata “perintahkanlah keluargamu” yg menunjukkan bahwa kewajiban mendirikan salat hendaknya dimulai dari rumah-rumah kita.

Ahli tafsir Syekh Sya’rawi berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan kita bagaimana membentuk komunitas yg baik, yaitu dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga. Krn keluarga adl unit terkecil dr komunitas sosial, di mana segala kebaikan itu harusnya bermula.

Kata “isthabir” dlm ayat merupakan bentuk hiperbolis dr lafaz “ishbir” yang artinya sama-sama “bersabarlah”. Pemilihan bentuk hiperbolis kata ini jelas mengandung arti bahwa memerintahkan keluarga utk salat itu bkn hal yg mudah. Ini adl sesuatu yg sgt berat. Dan memang, dalam faktanya, keluargalah yg paling berat utk dinasihati heheh.

Salat adl barometer kesuksesan rumah kita: keluarga kita. Maka ayah dan ibu, bangunkanlah anak-anak utk salat. Ketika kita salat, ajaklah anak utk salat. Ketika ayah ke masjid, bersabarlah “mengawal” anak selama ia di masjid. Perkenalkanlah ia dengan komunitas masjid agar org2 yang salat menjadi teman pertama dan setianya. Jgn segan2 memberi sanksi agar salat anak menjadi disiplin. Karena hanya saat anak masih kecillah kita bisa membentuknya, setelah ia balig dan dewasa, maka akan susah sekali jika ia baru mau diarahkan utk salat ✅

(Diintisarikan dari buku Inspirasi Parenting dari Al-Qur’an karya Mayyadah. BIsa didapatkan di toko buku offline dan online atau gramedia terdekat anda)


Sesi Tanya Jawab:

Ada 3 pertanyaan yg jawabannya saya gabung sj jdi satu yaitu:

  1. dari mba alyn: saya alyn dr makassar anak 1 (2,5thun) dan skrg sdg hamil (9bln) hehheeemau tanya : Terkadang kita(para ibu) tdk terkontrol emosinya (mgkin pengaruh capek atau apalah)dan tanpa sengaja mencubit atau membentak anak. Nah..ni hukumnya bgmn..berdosakah?Ada trik atau cara2 dr Al-quran yg bsa di share? biasanya klo sdh bgtu..kadang nangis sendiri menyesal..kok gak bisa kontrol emosinya.
  2. Azizah Alsyam: ketika org tua sdh berupaya membentuk karakter anak dengan langkah-langkah yg ada di materi namun sang anak tetap/blm terbentuk karakter nya malah menjadi2,apakah sebagai org tua perlu memukul anak? namun yg jadi pertanyaan saya apakah sebagai org tua berhak kah kita memukul?? , ya meskipun ada dalil membenarkan hal tersebut akan tetapi memukul pun pasti ada syarat nya, mengingat anak-anak skrg sprti apa, dan yg pasti apakah sang anak tdk trauma secara psikologis, dan yg lebih parah membenci org tuanya
  3. Suryanti: Assalamualaikum.. mba.. Mau tanya, saya punya anak laki2 2orang. Pertama usia 4thn, kedua usia 14bulan. Anak pertama saya lagi banyak2nya bergerak kesana kemari. Kadang melakukan hal2 yang membahayakan, atau sedikit berisik yang mungkin mengganggu. Misalnya: “dia lagi lompat2 dimalam hari (dia kalau malam hari lompat2), tidur pasti ngompol. Jadi saya melarang lompat2. Tp masih diulang terus2, saya tegur sampai 3-4x masih d ulang, akhirnya saya menegur dengan tegas (muka galak, mata melotot) hehehe. Kalau masih diulang kadang saya bentak. Sesekali jg pernah saya cubit atau sentil.. apa yg tahapan saya sudah sesuai yang seharusnya, apa belum yah?

jawaban:

kata “memukul” atau sanksi memukul dlm alQur’an ditemukan dlm ayat nusyuz yaitu ketika istri durhaka kpd suami. Namun dlm mendidik anak, sanksi memukul hanya ditemukan dlm hadis yaitu hadis ttg mendidik salat anak. Itu pun ketika ia berumur 10 thn. Bbrp ulama memberi kriteria maksud pukulan di sini: pertama, tdk boleh pd bgn wajah dan organ yg halus. Kedua, pukulan tdk dlm keadaan emosi sehingga tdk menyebabkan anak mjd “terluka” batinnya.

Bagaimana cara mengontrol emosi? Apalagi dlm kondisi orgtua yang capek, lelah? Bunda, kebetulan sekali, krn saya skrg sedang melakukan program 30 days without yelling. 30 hari tanpa mengomel/berteriak ke anak. Knp harus 30 hari? Krn utk memutuskan pola asuh masa lalu (orgtua saya pake sistem “pukul-cubit), maka saya hrs membuat “kebiasaan baru” yg terprogram.

Langkah-langkahnya: saat emosi, jgn lupa tarik nafas. Ambil jeda meski itu sekedar menghela nafas. Dan benar, kadang kita sampe cubit-mukul anak itu atau ngomel2 krn kita lupa “tarik nafas”. Lihat-marah-pukul! Jadi pola yg terjadi selalu seperti itu.  Coba bunda2 ganti mjd: Lihat-marah-tarik nafas. Lihat-marah-tarik nafas.

Setelah itu diamkan diri di kamar. Kalo perlu kunci pintu. Sebelumnya katakan kpd anak: “mama lg marah sekarang.” Di kamar silakan berbaring atau menangis, atau terserah. sampai emosi reda barulah anda keluar dr kamar. Saat keluar dr kamar, bicaralah dg anak. Knp anda marah, knp anda tdk suka dg sikapnya. Jika anak terlihat cuek, tdk peduli dg kata-kata bunda, tdk usah berusaha terlalu keras krn sebenarnya anak  sdg menyimak-mendengar 🙂

Silakan dicoba tips2 tadi. Utk pertama, sangat susah. Tapi insya Allah hasilnya luar biasa. Ibunda akan mjd lbh mudah mengendalikan diri, dan mjd ibu yg “ramah”, penuh kasih. Intinya adl, sabar dan sabar. Mendidik anak itu gak instan. Kalo hari ini udah dikasitau, anak ttp gak mau, jgn menyerah bunda:)  Krn mendidik itu sama dg berdakwah (ini jg sy tulis di buku). Berdakwah/menyeru kpd kebaikan tentu sj membutuhkan waktu yg lama, gak sekali dua kali 🙂

Pertanyaan selanjutnya saya gabung juga:

  1. Anindya Hamka: Assalamu’alaikum, Yg ingin sy tnyakn, mengenai cara melarang anak , sy prnah mndngar, bhwa utk melarang agr tdk mlkukan kesalahan, sbaiknya tdk menggunakan kata Jangan dgn alsan, bhwa kata trsbut Sulit diterima atw dicerna olh anak mka dianjurkan utk mnggunakan kata preventif/larangan yg lain sprti: hati-hati, alngkah baiknya klau….,dll. Nah, bgmana dgn al-Qur’an, yg mngangkat kisah Lukman “…Janganlah, kalian mnyetukan Allah….”Pda ayat trsbut jlas trterah kata Jangan, dn tntu msih byak kata Jangan yg digunakan dlm al-Qur’an…Nmun, disisi lain, ada pula yg mngtakan… dng melarang anak.y mengawali penggunaan kata Jangan, mlahan ulah/sikap anak yg dilarang trsbut justru smkin mnjdi²…
  2. Afiyunita: Assalamualaikum, nanya praakulwap: Contoh kalimat larangan untuk menghentikan kebiasaan buruk anak mnrt Alquran bgaimana?” krn sekarang banyak yg bilang, metode kalimat “jangan” tidak selayaknya untuk anak.

 Jawaban:

Dlm Al-Qur’an lafaz yg menggunakan makna “jangan, tidak boleh, haram, dll” itu hampir sama besarnya dengan kata “lakukan, halal, boleh…”. Artinya, bahwa dlm menyeru dan mengarahkan anak, kita membutuhkan dua tipe kalimat ini.

Sebenarnya, semua kata yg digunakan utk mendidik anak/bicara ke anak/memerintah-melarang anak itu sifatnya netral. Yg salah bukanlah kata “jangan”nya, tetapi “cara”nya. Saya bilang ke anak: Jangan! (mata melotot, mulut berbusa, suara menggelegar) jelas tidak sama jika saya bilang “jangan” dg penekanan suara yg tidak sampe ‘berteriak”.

Dlm Al-Qur’an, kata “larangan” terdiri dari banyak tipe. Saya lgsg singkatkan saja. Intinya adl, kata larangan tidak mesti selalu “jangan”, byk alternatifnya. tetapi menurut saya, jika memang dlm praktiknya kata “jangan” lebih dipahami dan lbh bisa “menyampaikan pesan” kpd anak, maka silakan memakainya 🙂

Melarang anak, kita dpt mengambil inspirasi dr ayat yg artinya: serulah kpd kebaikan dg penuh hikmah, nasihat yg baik, dan berbantahanlah dg mereka dg cara yg terbaik.

Hikmah= kebaikan. Nasihat yg baik= nasihat yg disampaikan dg cara yg baik, dan waktunya juga tepat. Berbantahan dg cara terbaik= anak cenderung selalu kritis. Maka setiap larangan yg kita tetapkan ke mereka, jgn lupa selalu disertai alasan. Kenapa gak boleh. Karena ini, karena itu. Maka jika anak melanggar, dan efeknya sdh terjadi, maka bilanglah ke mereka: Nah, bener kan, ibu bilang klo begini itu tdk boleh karena akhirnya kamu jd begini.

Pertanyaan selanjutnya:

  1. Pak Muhaimin:Sy pernah menemukan seorang anak yg – bisa dikata – “terlmbat” gaul. Hal ini karena, kebiasaan sehari2 si anak beda banget dgn anak2 seumurannya, dimana dia masih sangat bersifat layakx anak umur 3 tahunan (masih sring minta disuapin saat makn), yg sebenarnya dia sudah kelas 2 smp. Prtanyaan sy: Apakah hal ini termasuk suatu hal yg wajar dilkukan oleh seorang anak seumuran dia (kelas 2 smp)? Langkah apa yg hrusnya dlkukan oleh ortunya?

Jawaban:

Usia kelas 2 SMP artinya anak sdh melewati masa balig dan tamyiz. Di usia ini seharusnya ank sdh mampu mandiri dan sdh bisa dilibatkan dlm proses mengambil keputusan keluarga jika ada masalah. Jika mash disuapi, atau sikap yg sama dg anak balita, maka tentu saja ini tdk wajar. Perlu ada intropeksi dr orgtua. Kenapa anak bisa seperti itu tentu ada alasannya. Dan selama itu bukanlah sebuah penyakit, maka tentu saja jalan keluarnya semua dr orgtua: mau atau tdk mengubah pola asuhnya.✅

  1. selanjutnya pertanyaan Mbak Lilis: Ada seorang ibu yg mengeluh ke saya. Anak perempuannya sulit sekali d suruh sholat. Masih mau sih tp di akhir waktu. Kadang benar2 gak mau sholat. Pertanyaannya: Bagaimana cara mendisiplinkan sholat kepada anak yg sudah dewasa?Masih curhatan ibu yg sama. Anaknya nie gak takut dn gak sopan sama orang tua. Bahasa gaulnya songong. Sama gurunya juga. Padahal si ortu ini lembut lho. Kalau menegur anaknya jg lembut. Bagaimana ya cara mendidik si anak?

Jawaban: mohon maaf mba lilis, pertanyaan ttg “mendidik” anak dewasa sbnarnya tdk bisa sy jwb. Hehe, pertama, sy tdk punya pengalaman praktiknya. kedua, jika anak sdh dewasa, maka akan susah sekali dibentuk. Ini jadi sebuah cermin bagi para orgtua yg anak2nya masih kecil, maka didiklah dari skrg. Lebih baik “bersakit-sakit” sekarang mendidik anak, drpd “sakit hati” melihat kelakuan anak yg sdh dewasa✅

  1. Pertanyaan bunda Oktorika dr Klaten, Jateng. Ibu dr 2 anak, Fathan umur 5 thn n Fikri umur 2 thn. Kami tinggal d satu perumahan baru n semua kegiatan yg ada di lingkungan sini jg kebetulan baru start dr awaL. Ex : TPA/TPQ. Awalnya anak sy Fathan semangat sekaLi berangkat TPA (4x dLm 1 minggu). Tp akhir2 ini jd jarang  berangkat. Sy tanya alasan knp ga mau TPA, kataNy ada anak desa (bukan anak Perum kami) yg usianya lbh besar ada yg nakaLin. SeteLah kejadian itu pernah TPA d anter Ayahny, Fathan mau. Tp skrg jd ga mau sama sekaLi, kataNy karna org desa itu nakaL. Sementara ini Fathan ngaji iqro’Ny hanya sm sy d rmh. Pertanyaan sy, bagaimana ya cara menghilangkan rasa trauma anak karna d buLi teman yg lbh besar??

Jawaban: bullying adalah kasus yg serius. Bukan hanya anak akan ‘terluka’ secara psikologis, tetapi jg bs sampe “fisik”. Solusi sementaranya bunda, mengajinya dihandle sama ayah bunda. Pertama, memang seharusnya urusan “mengaji” itu mjd tanggungjwb ortu, bukan org lain. Kedua, jika ayah bunda yg langsung mengajar anak mengaji, maka ikatan antara anak dg orgtua akan semakin kuat. Adapun sosialisasinya, bisa di lingkungan dlm kompleks dan tempat yg jauh dr bullying tadi. Saya sendiri bunda, mulai dari alif ba ta, hingga skr sikembar sdh tahfiz, semuanya dihandle kami sendiri 🙂

  1. Pertanyaan bunda ulfia rachmah dari bekasi mau nanya Langkah apa yang harus saya lakukan  pada anggota keluarga yang sudah dewasa untuk mau mengerjakan shalat? (Background Fulanah kerja dipasar, saat waktu2 shalat zuhur dan ashar sedang ramai2nya pembeli waktu shalat lainnya jg tidak shalat krn sudah terlalu lelah_dalihnya_  ortunya selalu shalat berjama’ah dirumah sbg teladan tp krn tidak ada teladan sejak kecil_ortunya jg dulu sibuk dipasar sekarang sudah tidak, ditambah fulanah sudah menjadi okl _orang kaya lama.

Jawabannya sama dg jawaban saya atas pertanyaan bunda Lilis 🙂

  1. Pertanyaan Pak rayyan: Bgmana trik untuk mensholeh-ah kan anak yg masih dlam kndungan.? Adakah doa khusus yg diamalkan dipanjatkan ktika anak masi dlam kndungan. Ktika masih bayi, smpai tumbuh dewasa?

Jawaban: Kesalehan anak dl kandungan, bisa dipelajari dr kisah2 para orgtua dlm Al-Qur’an. Seperti kisah Maryam, yg mensalehkan lbh dulu dirinya sblm anaknya lahir. Begitu pula Zakariya, yg mensalehkan diri dan istrinya sblm Yahya lahir. Beberapa ahli membuktikan bahwa emosi ibu hamil terkoneksi dg janin. Misalnya ibunya waktu hamil suka ngomong jorok, teriak2, maka janin jg ikut “mendengar’ dan “menyimak” ibunya.

Adapun doa khususnya: dari al-Qur’an byk sekali doa2 utk anak: Doa ibrahim: robbanaa hablanaa min azwajinaa wa zurriyatinaa qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imaman. Doa ibunya Maryam: inniii u’izuha bika wa zurriyatahaa minassyaithanirrajimm. Nanti bisa dicek lgsg ayatnya. krn terbatas waktu saya tdk smpt melihatkan ayat dan surahnya.

  1. Pertanyaan dr Ummu ghaza: Bagaimana caranya agar qta bisa konsisten dgn reward & punishment yg disepakati bersama? kadang kondisi tertentu membuat qta tidak konsisten.

Jawaban: Berikut tips2 yg saya praktikkan bunda agar bisa konsisten:

  • reward dan pusnishment itu ditulis. Yaa, harus ditulis. klo perlu, dipajang di dinding agar semua penghuni rumah (bukan cuma ibunya saja) memahami aturan.
  • lakukan evaluasi dan revisi. Misalnya ternyata klo anak saya kasih hadiah A, malah membuat dia jadi malas. Kalo saya kasih punishment begini, gak mempan. Maka gantilah bentuk reward dan punishmentya.
  • jika ada kondisi dimana ibu atau ayah harus “melanggar”  aturan tadi, maka jgn berlama2. Segeralah kembali ke aturan awal. Normalkan kembali
  1. Tanggapan Bun Ana: Selain bertanya Saya bermaksud menanggapi pertanyaan dari Ibu Oktorika ttg trauma pasca bullying. Utk langkah pertama sebaiknya pancing anak utk cerita apa saja yg dialami serta apa yang dirasakan anak. Hal ini penting agar kita bisa mengetahui sejauh apa perlakuan yang diterima serta sedalam apa kesan negatif yg dialami anak. Kasus bullying ini cukup berbahaya. Bilapun anak dihentikan dr keg tpq/tpa, namun dikuatirkan di masa mendatang dpt menghambat kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Selanjutnya sy ingin bertanya..   Anak sy usia 10 bln.. dan sedang aktif2nya. Krn sy juga bekerja, jd sy bekerja sama dg adik utk ngemong anak. Selama.ini blm berhasil dpt ART. Nah, saat ini performa kerja saya terasa menurun krn lbh byk waktu utk mengurus anak. Ada saran utk anak dititipkan di baby care..tp sy blm yakin. Apakah ada saran? terima kasih

Jawaban: terima kasih atas  sarannya bunda ana :).. smg bunda oktorika terbantu utk menyelesaikan kasus bullying anaknya 🙂

Saya kebetulan seorg PNS. pergi pagi, pulang sore. Sementara suami saya, meski bkn PNS, ngajar sore pulang malam. Kami punya dua anak. Mengasuh bersama berdua saja, tanpa ART, bahkan orgtua kami pun tdk tinggal bersama kami.

Pengasuhan anak, sejak sikembar msh bayi, saya dan suami selalu membagi tugas. Kalo saya “ngemong” bayi, suami yg masak dan beres2 rumah. Kalo suami “mandikan bayi”, saya yg beres2 rumah, dan seterusnya.

Saat sikembar gak bayi lagi, manajemen tugas ini tetap berlanjut. Apalagi sikembar homeschooling, semua materi dari kami. Krn saya diziinkan bekerja oleh suami, maka bukan cuma izin saja yg saya dapatkan. Tetapi jg “support’. Suami saya bilang: klo kamu ikut cari “uang”/ membantu pencarian nafkah keluarga, maka saya juga harus membantu kamu “tugas rumahan dan jaga anak”.

Diskusikan dg suami dan adik atau pihak keluarga yg ikut tinggal di rumah. Buatlah kesepakatan ttg pembagian mengasuh anak. Jika terpaksa harus memanggil ART, maka kita harus tegas dan konsisten bahwa ART hanya “membantu”, bukan “mengambil alih”. Tetap semangat bunda Ana 😉

  1. Pertanyaan bun fanisah, ibu dr dua org anak (cowok 4,5 thn dn cewek 1,1 thn) bagaimana cara mayyada mengajari anak membaca iqra’? metode apa yg mayyada gunakan? anak saya ziyad usia 4,5 thn susah d ajak ngaji. pling lma bertahan 10 menit. setelah itu minta susu, mkn n alasan lain biar tdk ngaji lg.

Jawaban: Saya dan suami mengajar iqra’/alif ba taa itu ketika sikembar umur 5 tahun. Lebih telat malah dr anaknya bunda. Karena saya memang gak terlalu ngejar dia cepat bisa. Krn sikembar agak lama baru “Lancar” bicara, maka kami baru mengajarnya pas 5 tahun. Ini tips2nya bunda:

  • sekali mengajar, gak perlu lama. karena anak itu gak suka berlama2 hehe. apalagi anak aktif. Bahkan 7 menit cukup. Yg ptg adl “bagaimana dia suka belajar”, bukan bagaimana dia “bisa”.
  • klo dia udah suka, maka akan mudah mengajarinya. dia akan cepat paham. selama proses mengajar anak, bisakan saja anak tetap memegang susunya, makan cemilannya, atau mainannya. Karena justru saat dia aktif, otaknya tetap menyimak dg baik 🙂
  • jadi intinya, pelan2 aja. satu baris setiap hari yg penting rutin :)✅
  1. Pertanyaan mba Dahlia: Sy jg mau bertanya,bagaimana menangani anak yg agak cengeng kalau sama orang tuanya,tp kalau tdk ada orang tuanya, tdk cengeng.

Jawaban: ada ortu anak baru bersikap cengeng-manja. gak ada ortu anak gak begitu. itu artinya anak sedang caper (cari perhatian) ayah bunda. Mungkin ayah bunda yg tiap hari kerja, sehingga klo pulang rumah, anak merasa ingin orgtua merapel (menebus waktu) yang tadinya ortu gak berada di sisi anak. Maka sah-sah saja, apalagi anak bunda anak tunggal. Klo bukan perhatian orgtua, dari siapa lagi 🙂

Jika anak bertingkah manja, cobalah bunda berusaha melayani dan memperhatikannya. Selama itu adalah keinginannya yg wajar, maka silakan diiyakan. Apalagi anak sdh bersikap sangat baik selama ayah bunda tidak di rumah:) Anggaplah itu sbg apresiasi buatnya sehingga ia merasa dihargai 🙂

  1. Pertanyaan bun Nurul fauziah: Sy seorang ibu dari seorang putri berusia 4 thn 3 bln. Kebiasaan anak sy nonton film kartun via tv atau gadget, tdk kenal waktu.n susah dilarang. Gimana cara mengatasinya n mengalihkan perhatiannya. Sepertinya tdk tertarik dgn mainan lain.

Jawaban: saya sdh membahas di materi pra kulwap ttg bgmn al-Qur’an mencontohkan tahapan menghentikan kebiasaan buruk anak. Silakan dibaca lagi ya bunda.

Praktik kami: di rumah kami gak ada tivi. Gadget pun hanya milik pribadi saya dan suami. Cuma ada 1 laptop. Solusi sementara, bunda bisa menghapus aplikasi gamenya atau memberi password pada gadget yg gak diketahui oleh anak. Tp sblm cara ini, bunda lewati dulu tahapan2 sebelumnya (silakan dibaca materi pra kulwapnya ya).

Alhamdulillah selesai 🙂 See u in next kulwap 🙂

-Mayyadah-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: