Menyusun Kurikulum Diri Anak

Materi ini bersumber dari kulwap grup HSMN (Homeschooling Muslim Nusantara) wilayah Sulawesi tanggal 30 Agustus 2016. Materinya saya resume kembali. Kebetulan saat itu saya yang jadi notulennya dan bunda Ningrum yg jadi moderator 🙂

Narasumber: Abah Lilik Riza (Ust. Fadli Riza), seorang pegiat home education, ayah 6 anak Konselor sekaligus coach di Rumah Keluarga Indonesia Yogyakarta.

Muqaddimah: Pendidikan adl tarbiyah yang bermakna “tumbuh-kembang”. Tumbuh mewakili makna biologis, sedangkan kembang mewakili makna psikis, yang memiliki tujuan, sarana, tahapan, fungsi, dan sebagainya. Demikian pula dengan pendidikan anak/tarbiyah awlad juga memiliki komptenesi yang hrs dicapai, ingin dan butuh dicapai, tahapan, dan lainnya, yang sudah diatur dalam Islam. Tujuan pendidikan Islam adl mendidik al-fahmu asy-syaamil dan al-iltizam alkaamil (kefahaman menyeluruh, lengkap dan komitmen sempurna).

Proses pendidikan tidak sesederhana dengan taklim atau transfer ilmu. Di sana ada emosi, ada nilai, ada kejujuran, ada logika dan teladan, sehingga hrs diperhatikan cara berfikir, cara bertindak, cara merasa, cara bersikap, dan cara berbicara. Setidaknya ada 4 hal yang menjadi isi dalam menyusun kurikulum pengembangan diri anak:

  • Prinsip dan nilai kehidupan
  • Wawasan ilmu dan pengetahuan
  • Skill/keterampilan hidup
  • Spesialisasi diri

Jawaban abah Lilik atas beberapa pertanyaan ibu2:

  1. Seharusnya kurikulum pengembangan diri anak itu dipahami dan diterapkan sejak nol tahun, awal pengasuhan. Harusnya kan ilmu dulu baru nikah, punya ilmu mendidik anak dulu baru punya anak. Istigfar yaa kita!
  2. Karena pengasuhan bertahap, seharusnya kita mencari tahu bagaimana tahapan perkembangan anak menurut psikologi Islam.
  3. Flexy School, SD, SDIT, hanyalah sarana, yg penting adl bgmn kita punya skill mendidik anak. Kita harus paham bagaimana printah Allah soal pengasuhan, bagaimana Rasulullah mencontohkan. Anak adalah amanah dari Allah utk ayah bunda, bukan gurunya. Artinya mau sekolah manapun, tanggungjwab kitalah mengembangkannya.
  4. Menjelang akil balig, dekat-dekatlah, ikhtiarkan ayah dekat dg anak lelakinya, jgn jaim atau kaku, bermainlah agar bisa mengeksplor kelelakian anak.
  5. Lihat bgmn anak berinteraksi dan konflik cara merasa, bersikap, dan berfikirnya. Diskusikanlah.
  6. Dengan syarat, ayah bunda harus memutuskan hubungan pola asuh masa lalu yaitu pola asuh yang tidak sesuai dengan fitrah dan  Islam, yang diwarisi dari orgtua kita yang tidak paham, akhirnya kita jadi terpola dan cara menghadapi anak pun mirip, atau mengkopi atau muncul efek negatif masa lalu seperti cara marah. Kita tidak percaya diri, suka pakai syarat kalau mau ini itu, suka membandingkan. Ini kadang tidak disadari, krn berasal dari alam bawah sadar karna kita sudah terbiasa. Contoh: anak 10 tahun tidak pernah diberi hukuman kalau nda salat (ortu gak tegaan padahal melanggar perintah Allah dan RasulNya). Untuk itu cek kembali pola asuh kita apakah hanya kebiasaan atau sudah sesuai dg Islam.
  7. Dalam banyak coaching, yg paling awal dan sulit itu adl mengubah persepsi pola asuh masalalu di kalangan ayah bunda, baru setelah itu kemampuan komunikasi dg anak, barulah kita bisa menyusun kurikulum pengembangan diri anak.

Adapun tahapan perkembangan anak menurut psikologi Islam adalah:

  • hadhonah (bayi): sentuhan, pelukan, ASI, kejiwaan ayah bunda berpengaruh pada anak.
  • thufulah (kanak-kanak): bermain sambil belajar, bermainlah dg anak, bukan sekedar belikan mainan. Rumah berantakan itu wajar, jgn ngomel, jgn risau, jgn jaim. Ayah bermain dg anak. Jadikan setiap permainan dan alat main sbg sarana utk penanaman nilai2.
  • tamyiz (usia konkrit): benar dan salah harus dijelaskan kpd anak. Ini masa anak punya rasa ingin tahu yang tinggi, jadi fasilitasi.
  • amraad (usia pendisiplinan dan keteraturan): diskusikan konsekuensi di masa ini, diskusikan hukuman.
  • taklif: perlakukan anak sbg sahabat, dia sudah harus bertanggungjawab dg diberi kepercayaan padanya

Khatimah: jika ada kemauan pasti ada seribu jalan. Kalau tidak ada kemauan pasti ada seribu alasan. Sayangnya, manusia adl makhluk paling cerdas mengarang alasan-alasan. Yuk belajar menjadi ayah bunda yg cerdas mulia, rendahkan hati utk belajar lagi. Anak eror bisa durhaka pada ortu, tapi ortu yang eror durhakanya pada Allah. Fastabiqul Khairaat! Tugas kita bertauhid, syukur, ilmu amal, doa dan ikhtiar, adapun soal hasil urusan Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: