Menikahi yang Tak Dicintai?

Adakalanya dalam satu bagian di rencana kehidupan, kita hanya mengikuti arus. Tidak mampu menahannya, tidak bisa menghentikannya. Seperti ketika kita berencana menikah dengan si A, tetapi kehidupan mengantarkan kita untuk menikahi si B. (Di belakang saya terdengar suara batuk keras :p).

Beberapa orang percaya bahwa sebelum menikah dengan pasangan, kita harus memiliki sedikit-banyak rasa sebelum menikah, kita memang mencintainya atau minimal kita memang sreg padanya (sregnya kevel maksimal). Ini teori A. Namun, kenyataannya, teori B lah yang lebih sering dipakai: menikahlah, urusan rasa belakangan.

Bagi mayoritas perempuan, teori A adalah pendapat paling rajih karena masalah rasa itu bukan masalah sepele bagi kaum hawa. Rasa sebelum menikah adalah sesuatu menyangkut masa depan. Lagipula, tidak semua orang dengan mudah akan jatuh cinta kedua kali. (Kali ini suara batuk itu makin keras :p).

Sebenarnya teori A juga dipegangi oleh sebagian besar lelaki. Hanya, mereka lebih punya hal penting lain ketimbang masalah rasa, yaitu harga diri. Kalau gagal atau tersendat atau susah tembus, mending menikah dengan yang lain atau membujang seumur hidup daripada mengemis dan membiarkan harga diri sebagai pejantan ternodai. (Abaikan saiful jamil kwkwk).

Lalu, bagaimana sebenarnya jika kita sudah terjebak dan harus memilih teori B? Menikahi dirinya yang tak dicintai? Atau bahkan menikahi dia yang tak pernah diangankan-diinginkan sama sekali?

Malang benar nasibmu, Nak! Haha.

Sesungguhnya, rasa itu berada dalam hati. Dan hati itu dikendalikan oleh pikiran, lalu dari situ reaksi dan respon bergerak. Maka, sangat mudah menilai siapa yang tidak mencintai suami/istrinya sepenuh hati. Lihat saja respon dan reaksinya, sikap dan penghargaannya, pengabdian dan komitmennya. Menu masakan istrinya hingga setoran uang jajan suaminya haha.

Namun bukan berarti hati itu tidak bisa diarahkan. Hati adalah tempat diputuskannya perkara, namun ia bisa saja berubah-ubah. Sebelum nikah bilang tidak cinta, tapi setelah nikah, anaknya jadi lima kwkkw. Jadi, maksud saya begini, hati itu bisa diarahkan oleh pemiliknya jika dia memang mau berusaha untuk membuka hatinya. Karena tidak ada yang bisa mengendalikan isi hati itu kecuali pemiliknya. Ya, anda sendiri, bukan siapapun.

Mengarahkan hati dari tak ada rasa menjadi ada itu bagaimana kak Maya?

Ehem, pertama: ikhlaslah atas takdirmu. Bahwa menikahinya itulah takdir yang telah ditetapkan Zat yang Maha Tahu. Apa yang kamu inginkan, tidak semuanya baik menurut Tuhan. Mencintai tidak menjadi jaminan sebuah pernikahan yang bahagia. Di luar cinta, kebahagiaan membutuhkan lebih banyak keikhlasan, penerimaan, dan sikap saling terbuka. Dan itu semua dapat diusahakan. Semoga usaha  mengikhlaskan, menerima, dan membuka hati itu menuntunmu ke cinta. Cie.

Kedua, bukalah matamu untuk melihat kebaikan2nya. Jangan terfokus menghitung kekurangannya yang sedikit itu. Jangan membandingkannya dengan tipe idealmu dahulu. Karena bukankah tidak ada satu pun org di dunia ini ideal? Jika kamu berpikir bahwa pernikahan itu dipaksakan lantas engkau menyalahkan dunia, atau orangtua, atau si dia, lantas apa manfaatnya? Hanya buang2 energi dan waktu. Menyalahkan adalah tindakan kanak-kanak dan membutakan. Misalnya kamu gak suka dia karena dia gak romantis, tapi hei…bukankah dia tipe org tidak pernah mengeluh? Kamu gak suka dia karena fisiknya serba minus, eits…bukankah dia sangat sangat sabar menghadapimu? (Suara batuk di belakang saya perlahan lenyap berganti suara isak ingus :p).

Dalam kenyataan inilah yang sering terlupakan. Kita sendiri tidak ingin dipandang sebelah mata, ingin dipahami, ingin didengarkan, tapi justru kita yang memandang orang lain dari satu sisi saja. Kita ingin dinilai sempurna, tetapi semua orang selalu serba kurang di mata kita.

Usaha terakhir, mintalah pertolongan dengan berdoa. Karena…sudah menjadi janji Tuhan bahwa yang berusaha untuk berbuat baik kepada pasangannya, meski ia tidak menyukainya, maka Tuhan akan turun tangan langsung menghadirkan rasa itu. Bayangkan, cinta yang datang karena manusia aja udah indah bagai nirwana, apalagi cinta yang datang karena Allah ya. Subhanallah…

Oke, biar tulisan ini tidak sekedar mengoceh hampa, mari kita simak pendapat Mutawalli Sya’rawi, mufassir idola saya tentang ayat ini: (QS annisa ayat 19)

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً

“dan bergaullah dengan mereka secara ma’ruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) maka bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Dalam ayat ini, Allah menggunakan lafaz “bil ma’ruf” bukan “bilwud atau bilhubb”. Ayat ini gak bilang: bergaullah dengan mereka dengan rasa cinta atau kasih sayang. Pemilihan kata ‘ma’ruf’ bisa jadi karena suami yang dimaksud di ayat ini adalah ia yang tak punya rasa cinta ke istrinya. Hal ini dipertegas oleh lanjutan ayat itu berbunyi: …”dan jika kamu tidak menyukainya…”. Keren banget, al-Qur’an pun sangat detail memilih kata yg paling pas mewakili perasaan manusia :d

Apa sih sebenarnya perbedaan kata ma’ruf dengan kata alwud atau hubb (cinta)?

Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa alwudd artinya kita berbuat kepada org krn kita mencintainya, krn kehadirannya membuat kita bahagia. Alwudd itu merupakan hasil penjumlahan antara caper dengan baper. (Gugel saja klo tdk update dg istilah ini :p). Dengan kata lain, alwud itu adalah perasaan dalam hati yang menggerakkan sikap baik kita kepada pasangan.

Sedangkan kata ma’ruf tidak muncul krn dorongan perasaan. Bahkan ketika kita membenci atau tidak menyukai seseorg, kita bisa tetap berbuat baik padanya. Inilah yang dimaksud ma’ruf: kebaikan kita kepada seseorg didasari krn memang setiap org punya hak untuk dihormati, dihargai.

Tak heran jika pada ayat yang berbicara tentang bagaimana seorang anak bersikap jika orangtuanya kafir/nonmuslim dan memaksa anaknya untuk mempersekutukan Allah, maka di ayat tersebut Allah memakai kata :ma’ruf.

Kembali ke ayat sebelumnya, di situ ada kalimat yang berbunyi: “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) maka bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Kebaikan yang melimpah yang dijanjikan oleh Allah bagi seseorang yang tetap bergaul secara maruf dengan pasangannya meski ia tidak menyukainya adalah kebaikan yang datang dari Allah. Sedangkan rasa benci-tidak suka adalah sesuatu yang datang dari dalam diri manusia. Maka, bisakah rasa benci manusia itu dibiarkan dominan untuk menghalangi kebaikan dari Allah?

Jawabannya tentu saja tidak. (kan sudah saya kasi minum combantrin kwkw).

Jika kita bersabar, maka tidak mustahil rasa tidak suka itu akan lenyap dan berganti dengan cinta. Dalam ayat tersebut Allah menjanjikan bagi siapapun yang tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan pasangannya khairan kastiran: ‘kebaikan yang banyak’. Kebaikan yang banyak itulah yang seperti tadi saya jelaskan, adalah sesuatu yang sering terabaikan, tidak terlihat dan tidak disadari hanya gara-gara hati kita terlalu terfokus pada masalah cinta atau tidak cinta.

Saya kira cukup sampai di sini ceramah saya. Karena suara dahak di belakang saya telah berganti menjadi suara dengkur 😀

Iklan

5 respons untuk ‘Menikahi yang Tak Dicintai?

Add yours

  1. Wah tulisannya menyentuh mbak, walau setengah tulisannya kebawah belum pernah dirasakan “nyata” oleh pengomentar *batuk dikomix ajah 😀

    Akhirnya kita tetap diminta bersabar ya mbak, bolehlah nanti jadi pegangan ketika sudah mendua nanti, eh berdua maksudnya 😀 😀

    *btw saya penggemar Syeikh Mutawalli Sya’rawi juga mbak, beliau menafsirkan Alquran dengan, bbeuh supeeerrr enak dinikmati… 🙂

    Suka

  2. Subhanalloh, memang betul di ayat al qur’an aja jelas berbunyi (atau apakah manusia akan mendapat yang di cita2kan?) Tidak!! Maka milik Alloh lah kehidupan didunia dan dan akhirat. #Qs.An-Najm 24-25

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: