Membentuk Anak Cerdas Melalui Fun Islamic learning

Orangtua mana yang tak bahagia melihat anaknya tumbuh dengan cerdas? Bukan hanya cerdas intelektual (IQ) saja, tetapi juga cerdas hati (EQ/SQ).  Pada dasarnya, anak yang cerdas tidak semata tumbuh dengan sendirinya meski seluruh potensi itu telah diciptakan, namun dibutuhkan metode pendidikan cerdas yang otomatis melibatkan peran seorang ibu yang cerdas pula.

DSC07122Zaman sekarang, seorang anak yang belum pandai berbicara sudah tak merasa asing dengan benda-benda seperti dunia cyber, komputer, game digital, dan produk teknologi lainnya, dimana situasinya berbanding terbalik dengan masa kecil orangtuanya. Tak heran jika Ali bin Abi Thalib RA berpesan “didiklah anakmu, sesungguhnya mereka diciptakan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu”. Untuk itu, keluarga sebagai madrasah pertama dan utama perlu mempersiapkan metode pendidikan yang mampu mendobrak potensi kecerdasan anak. Salah satunya adalah melalui Fun Islamic Learning (FIL).

Sebenarnya, metode fun learning sudah lama dikenal bahkan dipraktikkan oleh sebagian besar lembaga pendidikan pra-sekolah seperti TK, PAUD, dan Playgroup. Sayangnya, metode ini ternyata tak cukup untuk membentuk anak yang cerdas secara menyeluruh karena hanya menitikberatkan pada kecerdasan intelektual dan emosional anak, tanpa melatih kecerdasan spritualnya. Tak heran jika kita mendapati anak yang berprestasi akademis namun perilakunya tidak islami, pintar sekaligus ramah, tapi tidak mengenal al-qur’an, dan beberapa contoh kasus lainnya.

FIL merupakan solusi yang tepat bagi keluarga muslim untuk memberikan pendidikan yang cerdas sekaligus membangun karakter islami pada sang anak. FIL tak hanya mencipatakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak, tetapi juga memberikan nilai plus berupa pengenalan islam secara dini. FIL dapat dipraktikkan kapanpun, namun akan lebih baik dan sangat dianjurkan dimulai sejak fase golden age anak.

Beberapa penelitian dan hasil observasi para ahli membuktikan bahwa tahap perkembangan terbesar kecerdasan anak terjadi di masa golden age. Golden age adalah masa keemasan anak yang tidak akan terulang lagi di tahap pertumbuhan selanjutnya. Ada yang berpendapat bahwa golden age dimulai dari usia 0-3 tahun, sebagian lagi mengatakan masa penting tersebut dimulai sejak usia 0-5 tahun. Meski berbeda pendapat tentang rentang waktunya, namun semua pakar sepakat bahwa di masa awal-awal tahun pertama inilah anak dapat menyerap informasi dan pembelajaran dengan sangat cepat.  Di masa inilah anak diumpamakan seperti sebuah ranting kecil yang lentur sehingga dapat dibentuk apa saja. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang kelak membentuk karakter dirinya.

Kunci sukses metode Fun Islamic Learning terletak pada partisipasi orangtua yang aktif, dalam hal ini seorang ibu memiliki peran yang sangat penting. Di masa awal perkembangan kecerdasannya, anak belum dapat memberikan komunikasi dua arah sehingga orangtua diharuskan berperan aktif dalam memberikan pembelajaran yang sedikit tapi rutin agar dapat tersimpan dengan baik dalam memori sang anak.

Seain itu, sangat penting bagi orangtua untuk menciptakan keteladanan agar anak tidak merasa dihakimi dan asing dengan apa yang diajarkan. Stimulasi yang diberikan akan cepat ditiru dan mudah diserap oleh anak jika melihat contoh langsung dari sikap teladan orangtuanya.

Membentuk anak cerdas melalui Fun Islamic Learning dapat dilakukan dengan mencoba beberapa kegiatan berikut:

bermainBermain. Terkadang disebabkan oleh kesibukan, orangtua kurang intens menemani anaknya bermain padahal bermain bersama anak akan menumbuhkan ikatan emosional lebih dalam dan mengembangkan imajinasi serta kreativitas anak. Permainan edukatif seperti puzzle huruf hijaiyah, menyusun balok angka, atau permainan imajinatif seperti bermain drama akan menyeimbangkan potensi otak kanan sekaligus kiri pada anak.

Bermain di luar rumah (outbond) juga akan membuat anak senang dan tidak bosan. Disini, orangtua sesekali mengajarkan anak betapa indahnya ciptaan Allah melalui pemandangan yang dilihatnya. Untuk anak yang belum genap setahun, ibu bisa saja mencoba bermain air di waktu memandikannya dengan memberikan bebek karet mainan dan sejenisnya untuk menarik perhatiannya.

Berilah anak kebebasan bermain dengan tetap mengawasinya atau berpastisipasi sebagai teman yang baik baginya. Beberapa hadis mengisahkan bahwa Rasulullah terkadang membiarkan Aisyah yang saat itu masih belum balig untuk bermain ayunan, kuda-kudaan, dan sebagainya. Rasulullah bahkan sesekali menanyakan kepada Aisyah tentang mainannya  untuk memancingnya mengeluarkan jawaban yang cerdas.

Bercerita dan mendongeng. Tradisi bercerita dan mendongeng semakin lama semakin hilang dari sebuah keluarga. Zaman sekarang, anak akhirnya lebih banyak membaca cerita tak bermanfaat yang dapat merusak pola berfikirnya.

Cobalah untuk menghidupkan acara bercerita dan mendongeng di rumah. Ceritakanlah tentang kisah-kisah Nabi agar anak mengenal nama nabi-nabi dan mengetahui sejarahnya. Dongengkanlah tentang kisah Malin Kundang, pahlawan Islam, dan sejenisnya yang dapat membangkitkan perhatian dan mengarahkan pola berfikirnya. Tak perlu merasa khawatir anak akan lupa, karena di masa golden age otaberceritak anak laksana komputer yang siap menampung data apa saja yang akan terus tersimpan dalam memorinya.

Dalam bercerita, seorang ibu dituntut berperan sebagai pencerita yang ekspresif dan kreatif. Suara yang berubah-ubah sesuai watak tokoh cerita, air muka yang marah lalu bahagia, gerak tubuh, dan sesekali mengelus kepala sang buah hati akan sangat dinikmati oleh anak sekaligus menstimulus kecerdasannya. Biasanya, anak yang masih berumur bulanan akan berusaha bergerak bebas dan belum dapat memperhatikan cerita sepenuhnya. Perilaku ini akan hilang dengan sendirinya bersamaan dengan bertambahnya usia anak. Ketika berumur setahun, biarkan anak memilih sendiri buku ceritanya.

Melibatkan anak dalam rutinitas ibadah. Suatu ketika Rasulullah SAW bersujud lebih lama dari biasanya karena membiarkan cucunya bermain di atas punggungnya. Sikap beliau patut dijadikan teladan. Ketika Sang Ayah menjadi imam, dudukkanlah anak di tepi sajadah agar anak memperhatikan gerakan shalat orangtshaatua dan mendengar bacaan Ayahnya. Aktivitas ini sudah dapat dipraktikkan sejak anak mulai bisa duduk sendiri. Kelak ketika sudah mampu melakukan gerakan shalat, anak akan merasa mudah untuk membiasakan dirinya tanpa diperintah.

Setiap pagi, bacakanlah surah-surah pendek sehingga secara tidak langsung anak akan menghapal dengan sendirinya. Jika orangtua tak sempat melakukannya, cobalah untuk memutarkan tilawah hafiz cilik di youtube dan biarkan anak mengutak-atik komputer sejenak dengan tetap mengawasinya. Biasakan untuk memangku anak ketika ibu dan ayah sedang tadarrus Al-qur’an. Karena rasa ingin tahunya, anak terkadang ingin mengoyak kertas mushaf sehingga orangtua perlu bersabar dan menenangkannya. Bahkan Ibu yang cerdas tak aneh jika harus menyusui bayinya sambil melafalkan bacaan al-Qur’an. Perlu diingat bahwa di fase golden age ini, indera pendengaran anak membutuhkan stimulus optimal untuk mengembangkan kepekaannya.

Bernyanyi dan memperdengarkan lagu. Penelitian para ahli telah membuktikan bahwa musik dan irama yang teratur akan membuat anak cerdas. Salah satunya disebabkan oleh faktor kepekaan indera pendengarannya yang sudah ada sejak bayi masih dalam kandungan. Jangan merasa aneh jika harus menyanyi sambil bertepuk-tangan di depannya atau bernyanyi sebelum anak tidur. Nyanyikanlah lagu yang ceria seperti alif ba ta, bilangan berbahasa arab dan inggris, atau lagu edukatif lainnya. Selain mengembangkan kecerdasan emosinya, anak akan menghapal dan belajar mengenal huruf dan angka.

Sesekali dudukkan anak di depan monitor agar anak memperhatikan sendiri gambar huruf dan abjad yang ada di video lagu tersebut. Selain mengasah gerakan motorik penglihatannya, anak juga akan  belajar mengasah berfikir sistematisnya.

Internalisasi nilai islami dalam perilaku sehari-hari. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana, diantaranya:

  1. Mengajarkan anak memberi salam dengan memulai mengucapkannya pada mereka untuk menanamkan sikap perdamaian dan perilaku santun sejak dini. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwasanya Rasulullah ketika melewati sekelompok anak-anak beliau mengucapkan salam kepada mereka.
  2. Berdoa sebelum melakukan sesuatu, minimal mengucapkan bismillah dengan suara keras agar anak terbiasa mendengarkan meski belum mampu mengucapkannya. Riwayat dari Umar bin Abi Salamah, Rasulullah mengajarkan kepada seorang pemuda untuk selalu menyebut nama Allah ketika hendak makan. Demikian juga ketika anak bersin, orangtua lantas mengucapkan hamdalah, dan seterusnya.

Selain kegiatan-kegiatan tadi, ibu dapat menciptakan kreativitas lain berdasakan metode FIL ini. Semakin banyak bentuk aktivitas yang diciptakan, semakin banyak pula wawasan dan pengalaman anak untuk melejitkan kecerdasannya. Berbekal kesabaran dan ketekunan, anak cerdas plus berakhlak shaleh tidaklah mustahil dimiliki oleh setiap oragtua. Nah, tak sabar lagi untuk mencoba dan berkreasi? Semoga bermanfaat!

* * *

Referensi:

Kitab Manhaaj al-Islam fii Tarbiyatul Aulaad karya Samir Abd. Aziz

Kitab Hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Majalah Ayah-Bunda No. 21 edisi November 2002

Situs-situs anak dan keluarga

Pengalaman pribadi penulis

(catatan: artikel ini meraih juara I dalam Lomba Menulis artikel Wihdah-PPMI Kairo 2009)

Iklan

2 respons untuk ‘Membentuk Anak Cerdas Melalui Fun Islamic learning

Add yours

  1. Assalamualaikum saya mahasiswi Pendidikan Agama Islam di UIN Alauddin Makassar, saya berencana ingin membuat skripsi dengan tema artikel ini, buat penulis mungkij bisa memberitahukan saya beberapa referensi buku terkait hal ini?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: